|
Menu Close Menu

Limbah di Kali Bekasi Yang Tak Pernah Rampung

Minggu, 29 September 2019 | 06.54 WIB

KONDISI Kali Bekasi saat ini di lokasi Hutan Bambu Kali Bekasi, masih menghitam dan mengeluarkan aroma kurang sedap, Sabtu (28/09/19). Hal ini sudah terjadi berulang-ulang bahkan masyarakat pinggir kali pun sudah terbiasa melihat keanehan fenomena warna kali Bekasi yang kerap kali berubah-ubah warna dan bau yang terjadi karena limbah industri.

Permasalahan limbah ini kerap kali terjadi dan dirasakan tiap tahun di saat musim kemarau, karena pada saat musim kemarau debit air berkurang. Berbeda halnya dengan musim penghujan dengan debit air yang begitu banyak akan sulit mendeteksi keberadaan limbah.

Akibat pencemaran limbah yang melewati kali bekasi ini pun dapat mengurangi penurunan produksi air bersih, karena adanya limbah B3, serta menurunnya debit air pada musim kemarau yang sebagian digunakan untuk bahan baku air minum Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Patriot.

Berkaitan dengan kondisi ini harus ada respon serius dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH Kota Bekasi) terkait dengan temuan limbah berwana hitam pekat yang melewati Kali Bekasi, dengan cara mengambil sampel air dan atau endapan lumpur, untuk menguji kandungan limbah di laboratorium milik Kota Bekasi.

Hasil temuan limbah yang sudah di uji laboratorium yang nantinya diperlukan untuk dijadikan alat bukti sekaligus acuan, karena akan terlihat jenis kandungannya. Kemudian dari situlah akan terlihat, perusahaan apa yang berpotensi membuang limbah tersebut.

Kemudian dari temuan limbah ilegal yang bersumber dari kabupaten bogor dan mencemari kali Bekasi tersebut. DLH Kota Bekasi seharusnya melakukan upaya tanggap, berupa koordinasi kepada pemerintah setempat Kabupaten Bogor, untuk cepat dalam melakukan pencegahan tindakan kejahatan lingkungan, bukannya melakukan pembiaran.

Karena sumber limbah bukan berasal dari Kota Bekasi. Kepala dinas LH Yayan Yulyana, dapat bersikap cepat dan tegas dalam melihat permasalahan kejahatan lingkungan yang berdampak negatif untuk masyarakat sekitar.

Penulis; Hendri - Komunitas Sarung MCK (Masyarakat Cinta Kampung)
Bagikan:

Komentar

<---PASNG IKLAN--->
<---PASANG IKLAN--->