Cihampelas Dulu Ikon Fashion Bandung Kini Terpinggirkan

Redaktur author photo
Teras Cihampelas bakal dibongkar

inijabar.com, Kota Bandung- Nasib Teras Cihampelas kian memprihatinkan. Dari 200 UMKM kini tersisa 20 pedagang jelang pembongkaran. Ini sejarah, problem tata ruang, dan masa depan kawasan ikonik Bandung.

Dari Ikon Jeans ke Ruang Sepi: Cihampelas di Persimpangan

Kawasan Cihampelas pernah menjadi denyut nadi fesyen Kota Bandung. Julukan “Jeans Street” bukan sekadar label, deretan toko busana berbahan denim berjajar di kiri kanan jalan, lengkap dengan ikon boneka raksasa karakter superhero yang menjadi daya tarik wisatawan lokal hingga mancanegara.

Teras Cihampelas dibangun sebagai Skywalk dengan niat penataan kawasan. Namun kini, wajah kawasan itu berubah drastis, sepi bahkan kumuh.

Menjelang rencana pembongkaran Skywalk teras Cihampelas oleh pemerintah daerah, para pedagang yang tersisa di justru dibatasi jam operasionalnya, hanya dari pukul 06.00 hingga 18.00 WIB. Situasi ini makin mempersempit ruang gerak ekonomi para pelaku UMKM yang masih bertahan.

Ambisi Tata Kota Era

Teras Cihampelas lahir dari gagasan besar penataan kota pada masa kepemimpinan Ridwan Kamil sebagai Wali Kota Bandung. Skywalk ini dibangun untuk menata PKL agar lebih rapi, mengurangi kemacetan, sekaligus menciptakan destinasi wisata urban baru.

Sejumlah kios di Teras Cihampelas yang sudah tidak berpenghuni

Awalnya, sekitar 200 pelaku UMKM direlokasi ke atas skywalk ini. Harapannya, pengunjung tetap ramai, pedagang lebih tertata, dan kawasan semakin modern. Namun realitas berkata lain.

Minimnya akses, perubahan arus pengunjung, serta berkurangnya daya tarik kawasan membuat satu per satu pedagang gulung tikar. Kini, hanya sekitar 20-an UMKM yang masih bertahan, itu pun dalam kondisi serba terbatas.

Regulasi Baru, Tekanan Lama

Pembatasan jam operasional menjadi pukulan terbaru bagi para pedagang. Waktu jualan yang dipangkas membuat potensi pendapatan semakin kecil, terutama karena aktivitas wisata di kawasan ini justru cenderung ramai pada malam hari.

Seorang pedagang yang masih bertahan mengaku kesulitan menutup biaya operasional harian.

“Saya berjualan sejak tahun 1990 saat masih di bawah. Waktu itu walikota menyuruh para pedagang naik ke sini (teras Cihampelas). Sekarang mau dibongkar lagi," ujar salah satu pedagang di Teras Cihampelas.

Kondisi ini mempertegas bahwa persoalan Teras Cihampelas bukan sekadar soal keberadaan fisik, tetapi juga kegagalan dalam perencanaan tata ruang yang adaptif terhadap perilaku ekonomi masyarakat.

Antara Romantisme Sejarah dan Realitas Tata Ruang

Cihampelas bukan sekadar kawasan belanja. Ia adalah simbol perjalanan ekonomi kreatif Bandung. Dari pusat jeans legendaris hingga eksperimen skywalk modern, kawasan ini menyimpan narasi perubahan kota yang kompleks.

Namun, transformasi yang tidak diikuti dengan riset perilaku pasar dan keberlanjutan ekonomi justru melahirkan ruang-ruang mati baru. Teras Cihampelas menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan tata kota bisa kehilangan relevansi jika tidak adaptif.

Masa Depan: Revitalisasi atau Penghapusan?

Rencana pembongkaran kini menjadi titik kritis. Pemerintah daerah dihadapkan pada dua pilihan: menghapus jejak kebijakan lama atau melakukan revitalisasi berbasis kebutuhan riil masyarakat.

Jika tidak ditangani dengan pendekatan komprehensif, bukan tidak mungkin Cihampelas kehilangan identitasnya sebagai ikon fesyen Bandung.

Teras Cihampelas hari ini adalah refleksi dari tarik-menarik antara ambisi estetika kota dan realitas ekonomi rakyat. Dari 200 menjadi 20 pedagang, dari ramai menjadi sepi—ini bukan sekadar angka, melainkan cerita tentang kebijakan yang perlu dievaluasi.

Bandung pernah dikenal sebagai kota kreatif. Pertanyaannya kini: apakah kreativitas itu masih berpihak pada pelaku kecil?.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini