Pengalaman Studi Banding ke Thailand: STT Bina Tunggal Dorong Kampus Jadi Hub Inovasi

Redaktur author photo


Momen jajaran STT Bina Tunggal saat mengunjungi Thaksin University.

inijabar.com, Kota Bekasi - Paradigma perguruan tinggi di Indonesia dinilai perlu segera bergeser, dari sekadar teaching university menjadi entrepreneurial university atau kampus berbasis kewirausahaan dan inovasi.

Hal tersebut menjadi pokok bahasan utama, usai delegasi akademik membagikan pengalaman kunjungan kerja dari Thaksin University, Songkhla, Thailand, dalam forum diskusi yang digelar di Kampus STT Bina Tunggal, Bekasi.

Kunjungan internasional yang mengusung tema 'Developing Entrepreneurial Universities through Innovation, Research Commercialization, and Industry Collaboration" tersebut, menyoroti fakta bahwa pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi saat ini, masih sering berjalan secara terpisah atau dalam 'silo'.

Sebagian besar perguruan tinggi masih berfokus pada kuantitas kegiatan, seperti jumlah lulusan atau publikasi ilmiah, ketimbang mengukur sejauh mana dampak ekonomi dan sosial yang dihasilkan bagi masyarakat.

Head of Malay Language Program, Faculty of Humanities and Social Sciences Thaksin University, Komaruddin Isayah, menegaskan bahwa universitas modern harus bertransformasi menjadi innovation hub, yang mampu merangsang riset berbasis kebutuhan nyata.

"Inovasi tidak boleh berhenti hanya pada publikasi; inovasi harus menciptakan nilai dan dampak (value and impact)," ujar Komaruddin Isayah di arena seminar internasional Thaksin University, Thailand, beberapa waktu lalu.

Komaruddin menambahkan, riset akademis tidak boleh terjebak dalam jebakan publish or perish. Peneliti di perguruan tinggi didorong untuk terus mengajukan pertanyaan mendasar, mengenai siapa pengguna hasil risetnya serta masalah industri atau masyarakat apa yang berhasil diselesaikan.

Menanggapi hasil kunjungan tersebut, Ketua LPPM STT Bina Tunggal sekaligus Ketua FKLPID Disnaker Jawa Barat, Benny Tunggul, menyatakan bahwa model konvensional Tridharma, harus segera bertransformasi menggunakan formula 5I Entrepreneurial University.

"Kita harus memulainya dari Identify kebutuhan industri dan masyarakat, dilanjutkan dengan Inovasi riset yang menghasilkan solusi, lalu Incubate inovasi menjadi produk prototype atau startup," kata Benny saat memberikan paparan di Kampus STT Bina Tunggal, Jumat (14/8/2026).

"Langkah selanjutnya adalah Industrilisasi Riset melalui kolaborasi pasar, hingga tercipta Impact atau dampak nyata bagi perekonomian masyarakat," lanjut Benny.

Menurut Benny, pendekatan ini mengintegrasikan seluruh fungsi kurikulum berbasis industri, komersialisasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hingga pembentukan ekosistem kewirausahaan yang berdampak jangka panjang.

Sementara itu, Peneliti dan Konsultan Industri dari Innovative University & College Malaysia, Hamdan Daniel, yang turut hadir dalam kolaborasi tersebut, menggarisbawahi pentingnya mengubah pola hubungan kerja sama antara perguruan tinggi dan dunia usaha.

"Sudah saatnya paradigma kita berubah dari pertanyaan 'Berapa banyak MoU yang kita miliki?' menjadi 'Berapa banyak proyek nyata yang telah kita selesaikan bersama industri?'" tegas Hamdan.

Hamdan menjelaskan bahwa model kolaborasi konvensional Triple Helix (University - Industry - Government), kini perlu diperluas menjadi ekosistem yang melibatkan masyarakat (Community) serta platform digital (Digital Platform).

Melalui pola ini, mahasiswa tidak hanya disiapkan menjadi pencari kerja (job seekers), tetapi diarahkan menjadi pembuat inovasi, pendiri startup, hingga wirausahawan sosial melalui skema Work-Based Learning.

Rangkaian kegiatan internasional yang melibatkan kolaborasi antara Thaksin University, STT Bina Tunggal, Innovative University & College Malaysia, serta STIT Al-Qurani Bengkulu Selatan ini, diharapkan mampu menjadi pemantik perubahan tata kelola perguruan tinggi di tanah air. (Pandu)

Share:
Komentar

Berita Terkini