Fahd Diserang Isu Miring Soal Pengeroyokan, Faisal Beri Kesaksian Lugas

Redaktur author photo
Kiri ke kanan: Ranny Fahd Arafiq, Fahd El Fouz Arafiq dan Faisal.

inijabar.com, Kota Bekasi - Wakil Ketua DPRD Kota Bekasi, Faisal, angkat bicara menanggapi isu dugaan pengeroyokan dan penganiayaan di Polda Metro Jaya, yang sempat mengaitkan nama Ketua Umum Barisan Pemuda Nusantara (Bapera), Fahd El Fouz Arafiq.

Politisi Partai Golkar itu menegaskan, bahwa narasi yang beredar di ruang publik tersebut, sama sekali tidak mencerminkan karakter asli pimpinannya.

Faisal memandang Fahd sebagai sosok tokoh pemuda yang memiliki integritas, keberanian, serta prinsip kepemimpinan yang kuat di tengah dinamika organisasi kemasyarakatan.

"Menurut pendapat pribadi saya, Ketum Fahd El Fouz Arafiq kebanggaan kita bukan sosok preman, melainkan tokoh pemuda yang memiliki karakter tegas, keberanian, dan pendirian yang kuat," ujar Faisal saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Sabtu (29/8/2026), 

Ia menambahkan, ketokohan Fahd lahir dari proses konsistensi, dalam membangun komunikasi yang baik dengan berbagai elemen ormas, maupun tokoh pemuda nasional.

"Fahd dikenal memiliki hubungan dan komunikasi yang baik, dengan berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) serta para tokoh pemuda. Rasa hormat yang diberikan kepadanya tidak datang begitu saja, tetapi lahir dari proses, pengalaman, keberanian, serta konsistensinya dalam membangun relasi dan menjaga prinsip," jelas Faisal.

Secara terpisah, Wakil Ketua Umum Bapera, Henry Indraguna, memberikan klarifikasi tegas untuk meluruskan informasi keliru yang menyeret nama ketum lembaganya. Ia memastikan, kabar adanya aksi pengeroyokan maupun keterlibatan Fahd El Fouz Arafiq adalah berita bohong.

"Informasi yang beredar di ruang publik tersebut adalah tidak benar, tidak berdasar, dan tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Dalam peristiwa yang dimaksud, tidak terdapat pengeroyokan, tidak terjadi penganiayaan, serta tidak ada keterlibatan ketua umum kami Fahd El Fouz Arafiq dalam bentuk apa pun," tegas Henry dalam keterangannya.

Henry juga membantah keras, adanya kaitan antara pihak-pihak yang disebut sebagai 'preman bayaran' dengan jajaran pimpinan Bapera, maupun Ranny Fadh Arafiq. Menurutnya, keberadaan pihak-pihak di lokasi kejadian murni bersumber dari persoalan personal lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan organisasi.

Bahkan, ia menyebut pihak di pihaknya justru mengalami perlakuan tidak patut berupa penghinaan dan pelecehan verbal di lokasi kejadian. Menyikapi penyebaran informasi palsu ini, Bapera mengingatkan publik agar berhati-hati dalam membagikan berita yang belum teruji kebenarannya.

Penyebaran narasi menyesatkan yang merugikan kehormatan seseorang dapat berkonsekuensi hukum perdata berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata serta ancaman sanksi pidana dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Kami mengimbau dan sekaligus memperingatkan secara tegas kepada seluruh pihak, termasuk akun digital, maupun individu, untuk menghentikan penyebaran informasi yang tidak benar; melakukan klarifikasi dan koreksi secara terbuka; serta menjunjung tinggi prinsip verifikasi, keberimbangan, dan tanggung jawab dalam pemberitaan,” pungkasnya.

Melalui klarifikasi ini, pihak Bapera berharap, masyarakat tidak mudah percaya pada disinformasi yang beredar dan senantiasa mengedepankan verifikasi fakta, sebelum menyebarluaskan informasi. (Pandu)

Share:
Komentar

Berita Terkini