![]() |
| Walikota Bandung Muhammad Farhan |
inijabar.com, Kota Bandung – Walikota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, pihaknya melakukan penyesuaian dan realokasi anggaran setelah dana transfer dari pemerintah pusat berkurang hingga Rp600 miliar.
Dampaknya, sejumlah proyek infrastruktur, termasuk perbaikan trotoar di berbagai titik Kota Bandung, terpaksa ditunda hingga tahun 2027.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, semula Pemkot Bandung berharap kekurangan dana transfer tersebut dapat ditutupi melalui Dana Bagi Hasil (DBH) sekitar Rp190 miliar. Namun, realisasi dana yang diterima jauh di bawah harapan, yakni hanya sekitar Rp9 miliar.
"Jadi kita itu berkurang transfer dari pusat Rp600 miliar. Tadinya kita berharap bisa dikaver oleh DBH senilai Rp190-an miliar. Tetapi yang cair kan hanya Rp9 miliar. Maka kita lakukan penyesuaian realokasi," kata Farhan, Jumat (2/10/2026).
Akibat kondisi tersebut, Pemkot Bandung memutuskan menggeser sejumlah proyek infrastruktur ke tahun anggaran 2027. Salah satu yang terdampak adalah rencana pembangunan dan perbaikan trotoar yang sebelumnya telah masuk dalam perencanaan.
"Beberapa perbaikan trotoar kita tunda ke 2027. Yang sedang berjalan, berjalan. Tapi ada beberapa titik yang rencananya mau dieksekusi, ya terpaksa ditunda dulu," ujarnya.
Tak hanya proyek fisik, Pemkot Bandung juga memangkas sejumlah kegiatan seremonial sebagai bagian dari efisiensi anggaran. Salah satunya adalah peringatan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) yang semula direncanakan dalam bentuk pawai.
Menurut Farhan, agenda tersebut diubah menjadi kirab budaya yang akan digelar pada 24 Oktober 2026.
"Ada beberapa kegiatan seremonial yang saya batal-batalkan, termasuk HJKB. HJKB yang tadinya mau pawai kan batal, kita undur ke tanggal 24 Oktober, diubah menjadi kirab budaya," katanya.
Di sisi lain, Pemkot Bandung justru menambah alokasi anggaran untuk penanganan dan pengelolaan sampah. Langkah itu dilakukan sebagai antisipasi terhadap potensi kondisi darurat sampah akibat perubahan cuaca ekstrem.
Farhan mencontohkan kebakaran tempat pembuangan akhir (TPA) yang terjadi di Solo dan Semarang sebagai peringatan agar Bandung lebih siap menghadapi risiko serupa.
"Menambah anggaran untuk pengelolaan sampah, karena kedaruratan sampah bisa terjadi kapan pun. Mengingat cuaca yang sekarang, contohnya saja Solo, Semarang, TPA-nya terbakar. Kita harus siap menghadapi akibat dari perubahan cuaca tersebut," ujarnya.
Meski melakukan penyesuaian anggaran, Farhan mengungkapkan Pemkot Bandung tetap menghadapi defisit sekitar Rp200 miliar. Namun, kondisi tersebut dipastikan tidak mengganggu jalannya pemerintahan karena telah ditutup menggunakan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tahun sebelumnya.
"Memang kemudian ada defisit sekitar Rp200 miliar, tapi alhamdulillah sudah ter-cover oleh SiLPA atau sisa anggaran dari tahun lalu," tandasnya.




