Lakon Teater 'Sisa Siksa' Edukasi HIV/AIDS di Kalangan Remaja

Redaktur author photo
Pementasan teater garapan Darang Production yang menggandeng Komunitas Aksi Kemanusiaan Indonesia (KAKI) berjudul "Sisa Siksa". Inijabar/Risky Andrianto

inijabar.com, Depok - Ruang Laboratorium Teater Kampus E Universitas Gunadarma, Kota Depok, mendadak senyap pada Sabtu (27/6/2026). Di atas panggung, sebuah potret getir keluarga Indonesia digelar melalui pementasan Teater bertajuk “Sisa Siksa: Merawat Empati Melawan Stigma”.

Pementasan teater garapan Darang Production yang menggandeng Komunitas Aksi Kemanusiaan Indonesia (KAKI) ini bukan sekadar unjuk bakat seni, melainkan sebuah tamparan keras terhadap realitas sosial jerat patriarki, kepasrahan perempuan, dan masih banyaknya diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Lebih dari estetika panggung, kolaborasi ini membawa misi yang jauh lebih mendesak yakni mendobrak dinding tebal yang bernama stigma, melalui pendekatan emosional yang selama ini gagal dicapai oleh penyuluhan konvensional.

Naskah yang disusun tidak muluk-muluk, ia memotret keseharian sosial yang dekat dan menyakitkan. Kisahnya berpusat pada seorang Ibu dan Anaknya yang hidup dengan HIV/AIDS setelah sang ayah tiada. Mereka hidup dalam bayang-bayang trauma kekuasaan patriarki rumah tangga, terisolasi, dan hanya bisa pasrah menerima keadaan yang ada.

"Judul Sisa Siksa dipilih karena konflik ini menyisakan luka dan sakit. Dua tokoh ini tidak mati, mereka bertahan hidup tapi dalam penderitaan," ungkap Eka Ardini selaku penggagas acara sekaligus Pengajar Drama Production Jurusan Sastra Inggris Universitas Gunadarma kepada awak media.

Dalam pementasan teater ini, lanjut Eka mengatakan bahwa dirinya tidak hanya ingin bercerita tentang penyakit fisik, tetapi juga mengkritik tentang kondisi sosial masyarakat saat ini. Salah satunya yakni melalui alur cerita tentang karakter seorang ’Pak RT’ yang labil dan ibu-ibu tetangga yang menghakimi. Dia menilai pementasan ini juga sekaligus menyinggung tabiat masyarakat urban yang kerap menghakimi sebelum mencari tahu.

"Masyarakat kita umumnya langsung ngejudge atau minta (ODHA) diusir saja. Kami ingin mengedukasi bahwa perempuan juga harus tegas, berani mempertanyakan hal yang merusak dirinya, dan tidak pasrah pada kuasa patriarki," tambah Eka.

Dia berharap naskah dan gerakan ini tidak mati begitu saja. 

"Harapannya kampanye ini bisa masuk ke mana saja, dipentaskan di mana saja, sekaligus menggelar diskusi interaktif," harapnya.

Sementara itu, Plt. Ketua KAKI, Yadi Sofyandi atau yang akrab disapa Ewang mengakui bahwa seni pertunjukan memiliki peran daya dobrak yang berbeda. Menurutnya, selama ini kampanye kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS kerap terjebak dalam format konsep ceramah yang kaku, berjarak, dan membosankan khususnya bagi anak muda.

"Melalui seni, emosional audiens bisa lebih terpantik ketimbang hanya ceramah biasa. Ini kan yang disentuh adalah hati dan emosi. Dari situ, empati akan bergerak menjadi tindakan nyata di lapangan," kata Ewang.

Dirinya pun menilai langkah ini sebagai preseden baik. Kata dia audiens yang mayoritas mahasiswa diberikan bekal pemahaman komprehensif mengenai pencegahan HIV dan pentingnya menghilangkan diskriminasi.

Selain itu, pihaknya juga menyoroti mengenai arah kebijakan penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Ewang membeberkan bahwa fakta di lapangan yang cukup ironis, karena selama ini yang dilakukan lembaga donor dan Dinas Kesehatan hampir seluruhnya hanya memusatkan perhatiannya pada "Populasi Kunci" seperti pengguna narkoba suntik, pekerja seks, LSL (Lelaki Seks dengan Lelaki) dan Transgender.

Akibatnya, terjadi kekosongan edukasi pada populasi umum, terutama kalangan remaja dan mahasiswa. Padahal, kata Ewang kelompok usia produktif tersebut berada dalam fase usia subur dan sebagian besar sudah aktif secara seksual.

"Mahasiswa ini salah satu segmen terbesar di Kota Depok. Sayangnya, jarang ada edukator atau petugas lapangan yang bergerak menyampaikan edukasi ke pelajar dan mahasiswa. Kita khawatir jika mereka tidak memahami terhadap batas-batas atau rambu-rambu yang dilakukan," tegas Ewang.

Tanpa adanya pengetahuan dan pemahaman yang tepat, ruang-ruang kampus yang dianggap intelektual justru berpotensi menjadi lahan subur bagi tumbuhnya stigma dan penularan HIV yang tak terdeteksi. (Risky)

Share:
Komentar

Berita Terkini