![]() |
| Kepala Bapenda Kota Bekasi Muhammad Solikhin |
inijabar.com, Kota Bekasi – Seleksi terbuka Jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bekasi memasuki fase krusial. Dari empat kandidat yang bersaing, satu nama paling banyak diperbincangkan adalah Muhammad Solikhin, Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Bekasi.
Sorotan terhadap Solikhin bukan semata karena rekam jejak birokrasinya, melainkan hubungan keluarganya dengan Wali Kota Bekasi Tri Adhianto.
Status sebagai ipar wali kota membuat tudingan nepotisme bermunculan bahkan sebelum hasil akhir seleksi diumumkan.
Namun, apakah penilaian tersebut benar-benar objektif?.
Sejak Tri Adhianto dilantik sebagai Walikota Bekasi bersama Wakil Walikota Harris Bobihoe. Solikhin yang pernah menjabat sebagai Kadis DBMSDA dan juga Kadis Perindag pastinya juga ingin menunjukan kapabilitas nya sebagai ASN Esselon 2.
Lalu ketika dilantik menjadi Kepala Bapenda Kota Bekasi, Solikhin terlihat berusaha menunjukan kinerja nya termasuk, ini ditunjukan saat Solikhin melepas jabatan nya sebagai Komisaris di salah satu BUMD dan fokus bekerja mengelola keuangan daerah sebagai Kepala Bapenda.
Nepotisme Belum Tentu Terjadi
Dalam perspektif tata kelola pemerintahan, nepotisme tidak bisa disimpulkan hanya karena adanya hubungan keluarga.
Yang menjadi ukuran justru adalah proses seleksi, kompetensi kandidat, rekam jejak, hingga hasil penilaian panitia seleksi.
Jika seluruh tahapan dilakukan secara terbuka dan hasil fit and proper test maupun asesmen menempatkan Muhammad Solikhin sebagai peserta dengan nilai tertinggi, maka posisi tersebut merupakan hasil kompetisi, bukan hadiah hubungan keluarga.
Sebaliknya, bila Wali Kota mengabaikan hasil seleksi hanya karena khawatir dicap nepotisme, muncul pertanyaan baru mengenai independensi proses seleksi yang telah dijalankan. Jabatan Sekda merupakan posisi strategis yang seharusnya diisi berdasarkan merit system atau sistem merit ASN.
Dilema Tri Adhianto
Di sinilah posisi Tri Adhianto menjadi serba sulit. Jika memilih Solikhin, tuduhan nepotisme hampir pasti muncul.
Namun apabila tidak memilih kandidat dengan nilai terbaik hanya untuk menghindari opini publik, justru berpotensi menimbulkan kesan bahwa proses seleksi kehilangan makna.
Karena itu, keputusan wali kota nantinya akan menjadi ujian terhadap komitmen penerapan sistem merit di lingkungan Pemerintah Kota Bekasi.
Maka itu Tri Adhianto diharapkan bisa menjaga objektifitas nya. Jika hasil fit n propertest nya baik ya harus diapresiasi. Sebaliknya jika hasil nilai nya lemah, ya jangan dipaksakan untuk dipilih.
Nilai Plus Jika Sholikin Menjadi Sekda
Beberapa faktor dapat menjadi nilai tambah apabila Muhammad Sholikin dipercaya menjadi Sekda Kota Bekasi.
Pertama, pengalaman memimpin Bapenda membuatnya memahami kondisi fiskal daerah, terutama tantangan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kedua, ia memahami birokrasi internal Pemkot Bekasi sehingga proses koordinasi antar perangkat daerah berpotensi berjalan lebih cepat.
Ketiga, kedekatan komunikasi dengan kepala daerah dapat mempercepat pengambilan keputusan terhadap program-program strategis.
Minus yang Akan Terus Membayangi
Di sisi lain, tantangan terbesar bukan berasal dari kemampuan teknis, melainkan persepsi publik.
Hubungan keluarga dengan wali kota akan terus menjadi bahan kritik, terutama dalam setiap kebijakan yang diambil.
Sholikin harus bekerja ekstra keras membuktikan bahwa setiap keputusan didasarkan pada profesionalisme, bukan kedekatan pribadi.
Selain itu, menjaga independensi birokrasi menjadi pekerjaan rumah besar agar kepercayaan ASN maupun masyarakat tetap terjaga.
Ujian Bukan Saat Dilantik, Tetapi Setelah Menjabat
Apabila akhirnya Muhammad Sholikin ditetapkan sebagai Sekda Kota Bekasi, ujian sebenarnya baru dimulai.
Publik tidak lagi hanya melihat bagaimana ia terpilih, tetapi bagaimana ia mampu mengoordinasikan birokrasi, menjaga netralitas ASN, meningkatkan pelayanan publik, hingga membantu memperkuat kinerja pemerintahan Tri Adhianto.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat siapa ipar siapa.
Sejarah akan mencatat apakah Sekda tersebut mampu membawa birokrasi Kota Bekasi menjadi lebih profesional, transparan, dan berprestasi, atau justru memperkuat anggapan bahwa kedekatan keluarga lebih berpengaruh daripada kualitas.
Tapi siapapun terpilih sebagai Sekda Kota Bekasi kedepannya harus mampu menjaga ritme kerja yang tidak hanya mampu membantu Kepala Daerah dan juga bukan hanya menjadi pelengkap seremonial. Sekda tersebut harus mampu menjadi asisten handal walikota dan wakil walikota
Editorial: Redaksi



