![]() |
| Angkot di Kota Bandung manfaatkan digitalisasi |
inijabar.com, Kota Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) mulai menguji coba sistem layanan angkutan kota (angkot) yang lebih aman, mudah diakses, dan terintegrasi, khususnya untuk mendukung mobilitas para pelajar menuju sekolah.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, program tersebut memiliki dua tujuan utama, yakni menjadikan angkot sebagai transportasi pengumpan (feeder) bagi angkutan massal serta menyediakan moda transportasi yang lebih nyaman bagi anak-anak sekolah.
Menurut Farhan, sistem yang saat ini masih dalam tahap uji coba atau beta tersebut masih memerlukan sejumlah penyempurnaan, terutama terkait model bisnis pengelolaan angkot.
"Bisnis model yang ideal adalah sopir angkotnya tidak mengejar setoran. Sopir angkotnya harus kita gaji. Ini yang kelihatannya masih belum ditemukan," ujar Farhan.
Ia menjelaskan, sistem setoran harian selama ini membuat pengemudi cenderung berebut penumpang di jalan demi memenuhi target pendapatan. Karena itu, Pemkot Bandung tengah mengkaji pola baru dengan sistem penggajian agar pengemudi dapat lebih fokus memberikan pelayanan yang aman dan nyaman kepada penumpang.
Farhan menegaskan, uji coba dilakukan sejak sekarang agar berbagai kendala dapat ditemukan lebih awal sebelum layanan Bus Rapid Transit (BRT) Kota Bandung mulai beroperasi.
"Jangan sampai BRT sudah jadi dan beroperasi, tetapi sistem ini masih percobaan. Mumpung BRT belum operasional kita manfaatkan waktu untuk memperbaiki sistemnya," katanya.
Selain memperbaiki model bisnis, Pemkot Bandung juga menyiapkan integrasi layanan angkot dengan Google Maps. Nantinya masyarakat dapat mengetahui rute angkot, posisi kendaraan secara real time, hingga perkiraan waktu kedatangan melalui aplikasi tersebut.
Untuk mewujudkan sistem itu, setiap pengemudi angkot nantinya diharapkan menggunakan aplikasi yang terhubung dengan sistem pusat sehingga lokasi kendaraan dapat dipantau secara langsung.
"Kalau bisnis modelnya benar, semua aplikasi ini akan terhubung dengan Google. Setiap sopir angkot memegang aplikasinya. Jadi, ketika masyarakat membuka Google Maps dan memilih tujuan akan terlihat angkot yang tersedia serta perkiraan waktu kedatangannya," jelas Farhan.
Selama masa uji coba, Pemkot Bandung bersama ITB akan terus mengevaluasi pola perjalanan, kebutuhan armada, serta respons masyarakat. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar penyempurnaan sistem sebelum diterapkan secara penuh sebagai bagian dari integrasi transportasi publik di Kota Bandung.
Program ini diharapkan menjadi langkah awal modernisasi angkot di Bandung sehingga mampu menjadi transportasi publik yang lebih tertib, efisien, dan kembali diminati masyarakat, terutama kalangan pelajar.


