![]() |
| Anggota Komisi IV DPRD Kota Bekasi Ahmadi |
inijabar.com, Kota Bekasi- Terkait peningkatan kasus HIV/AID di Kota Bekasi, Anggota Komisi IV DPRD Kota Bekasi Ahamdi menyatakan, dari catatan Dinkes mencapai sekitar 3.600 kasus.
Ahmadi juga menekankan, pencegahan dan penanganan harus terus dilakukan, dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat Kota Bekasi.
"Pemeriksaan Dari 3.200 yang sudah dilakukan sebenarnya jumlah kasus AIDS-nya tidak sebanyak itu. Makanya Dinas Kesehatan tahun ini sudah menganggarkan Rp100 juta untuk upaya pencegahan melalaui Sosialisasi,"ujarnya. Selasa (16/9/2025).
Politisi PKB ini mengatakan, anggaran sebesar Rp800 juta juga telah dialokasikan untuk penanganan HIV/AIDS serta penyakit menular lainnya. Ahmadi juga menambahkan anggaran tersebut masih bisa ditingkatkan jika dirasa belum cukup.
"Kota Bekasi ini kan wilayah metropolitan kehidupan malam, seks bebas dan berbagai faktor risiko lainnya bisa memicu peningkatan kasus HiV/AIDS Karena itu Komisi IV mendorong Dinas Kesehatan ( Dinkes ) agar terus melakukan penyuluhan,"bebernya.
Di tempat yang berbeda Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi (Dinkes), Satia Sriwijayanti Anggraini, menjelaskan Dinkes secara aktif melakukan deteksi dini terhadap individu-individu yang berisiko dan termasuk orang-orang di sekitar penderita HiV/AIDS.
"Uji deteksi memang banyak dilakukan, makanya kita tercatat sebagai daerah nomor dua terbanyak dalam pemeriksaan. Tapi untuk kasus baru, kita sebenarnya berada di peringkat enam di Jawa Barat,"jelas Satia.
Setia menerangkan, kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Kota Bekasi yang mencapai 2,5 juta jiwa, persentase kasus HIV/AIDS masih tergolong kecil dan relatif terkendali.
"Saat ini kasus aktif sekitar 322 yang tercatat kami tetap melakukan sosialisasi dan pencegahan, yang paling penting adalah memastikan penderita rutin minum obat agar tidak menularkan kepada orang lain,"ungkapnya.
Dinkes, kata dia, memastikan bahwa seluruh layanan kesehatan di Kota Bekasi baik rumah sakit maupun puskesmas memberikan pelayanan yang setara kepada penderita HIV/AIDS.
"Mereka tetap mendapatkan layanan sesuai protokol kesehatan yang berlaku tidak di bedakan dan tanpa diskriminasi," ucapnya.
Kota Bekasi dilaporkan menempati peringkat kedua sebagai wilayah dengan jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi di Provinsi Jawa Barat, yang pertama Kota Bandung. Berdasarkan data, total kumulatif kasus HIV/AIDS di Jawa Barat.(firman)




