Pasca Longsor Nasib Wisata Hutan Bambu di Bekasi Terancam, Belajar dari Tragedi Guci Tegal

Redaktur author photo
Hutan Bambu di RW 26 Margahayu Bekasi Timur setelah longsor

inijabar.com, Kota Bekasi – Wisata Hutan Bambu Margahayu di Bekasi Timur mengalami longsor di area bantaran sungai menyusul meningkatnya debit air Kali Bekasi pada Rabu (11/2/2026) malam seiring naiknya debet air di kali Bekasi.

Peristiwa ini memicu kekhawatiran soal keamanan wisata berbasis alam yang berada tepat di tepi aliran sungai.

Sejumlah bagian tanah di sisi bantaran terlihat tergerus arus. Material tanah dan rumpun bambu amblas ke arah sungai. Meski tidak ada korban jiwa, Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) Kota Bekasi pun langsung menutup kawasan tersebut bagi pengunjung.

Salah satu spot foto pavorit saat awal wisata Hutan Bambu di RW 26 Margahayu Bekasi Timur

Hutan Bambu Margahayu selama ini dikenal sebagai destinasi wisata alam murah meriah di tengah kota. Konsepnya memanfaatkan bantaran Kali Bekasi dengan deretan bambu yang ditata sebagai ruang terbuka hijau, spot foto, hingga area santai keluarga. Namun posisi yang langsung berbatasan dengan aliran sungai membuat kawasan tersebut rentan terhadap perubahan debit air.

Kenaikan debit Kali Bekasi diduga mempercepat erosi bantaran. Karakter sungai perkotaan yang menerima limpasan dari hulu dan kawasan padat permukiman membuat volume air dapat meningkat drastis dalam waktu singkat. Saat arus membesar, daya kikis air terhadap tanah di tepian sungai pun meningkat.

Fenomena ini mengingatkan pada kejadian di kawasan wisata alam Guci, Kabupaten Tegal. Beberapa waktu lalu, banjir bandang akibat luapan sungai merusak fasilitas wisata, termasuk kolam pemandian air panas dan jembatan penghubung. Arus deras membawa material lumpur dan batu, menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur wisata yang berada dekat aliran sungai.

Perbandingan tersebut memunculkan pertanyaan: seberapa aman konsep wisata yang berdiri persis di pinggir kali?

Wisata berbasis sungai memang memiliki daya tarik tinggi dari sisi estetika dan pengalaman alam. Namun risiko hidrologis tidak bisa diabaikan. Pembangunan fasilitas terlalu dekat dengan bibir sungai tanpa penguatan struktur tanah berpotensi memperbesar dampak saat debit air meningkat.

Di Hutan Bambu Margahayu, vegetasi bambu sebelumnya berfungsi sebagai penahan alami erosi. Akar bambu dikenal mampu memperkuat struktur tanah. Namun dalam kondisi debit ekstrem dan arus deras, vegetasi saja dinilai tidak selalu cukup tanpa dukungan rekayasa teknis seperti penguatan tebing atau sistem peringatan dini.

Hingga kini belum ada keterangan resmi terkait langkah penanganan jangka panjang di lokasi tersebut. Warga sekitar berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap keamanan bantaran sungai sebelum kawasan kembali ramai dikunjungi.

Kasus longsor di Hutan Bambu Margahayu menjadi alarm bagi pengelolaan wisata alam di wilayah perkotaan. Keindahan pinggir kali memang memikat, tetapi tanpa mitigasi yang matang, risiko alam bisa datang sewaktu-waktu.

Belajar dari Guci di Tegal, pengelolaan wisata berbasis sungai dituntut tidak hanya menjual panorama, tetapi juga memastikan aspek keselamatan menjadi prioritas utama.

Share:
Komentar

Berita Terkini