![]() |
| Foto: arsip Pemkab Cirebon |
inijabar.com, Kabupaten Cirebon- tengah derasnya arus digitalisasi yang mengubah wajah peradaban, Kabupaten Cirebon justru diajak menoleh ke akar. Bukan untuk mundur, tetapi untuk melompat lebih jauh dengan pijakan budaya yang kokoh.
Suasana khidmat di Gedung DPRD Kabupaten Cirebon dalam peringatan Hari Jadi ke-544, Kamis (2/4/2026), menjadi lebih dari sekadar seremoni tahunan.
Kehadiran Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi di acara Rapat Paripurna HUT Kabupaten Cirebon pada Kamis (2/4/2026) membawa pesan yang tajam: budaya bukan museum, melainkan mesin masa depan.
Dalam refleksinya, Dedi menegaskan bahwa kekuatan Cirebon tidak terletak pada infrastruktur megah atau industrialisasi semata, tetapi pada identitas khas yang tak dimiliki daerah lain, budaya kacirebonan. Mulai dari bahasa, kuliner, hingga seni dan busana tradisional, semua dinilai sebagai “aset hidup” yang harus terus dihidupkan, bukan sekadar dilestarikan.
Namun, tantangannya kini berbeda. Di era digital, budaya tak cukup hanya dipertahankan—ia harus mampu bersaing. Generasi muda lebih akrab dengan tren global ketimbang akar lokal. Di sinilah letak kegelisahan sekaligus peluang.
Dedi mengingatkan, daerah yang gagal mengemas budayanya akan kehilangan daya tawar. Sebaliknya, mereka yang mampu membangun “branding budaya” justru akan unggul dalam ekonomi kreatif. Cirebon, dengan sejarah panjangnya sebagai simpul peradaban pesisir, dinilai memiliki semua syarat itu.
Sorotan juga diarahkan pada simbol sejarah paling kuat di Cirebon: keraton. Keberadaan keraton bukan sekadar bangunan tua, melainkan pusat narasi peradaban yang membentuk identitas masyarakat. Namun ironi muncul ketika konflik internal justru kerap mencuat.
Dedi dengan tegas meminta agar dinamika internal keraton tidak lagi menjadi konsumsi publik yang merusak marwah budaya. Baginya, persatuan adalah fondasi utama jika Cirebon ingin menjadikan sejarah sebagai kekuatan, bukan beban.
Nama besar Sunan Gunung Jati kembali diangkat sebagai simbol nilai dan keteladanan. Warisan spiritual, arsitektur, hingga tata kehidupan yang ditinggalkan menjadi referensi penting dalam membangun peradaban modern yang berakar.
Lebih jauh, Dedi mendorong lahirnya kesadaran kolektif bahwa menjaga budaya bukan hanya tugas pemerintah atau keraton, tetapi seluruh masyarakat. Penataan kota dengan ciri khas arsitektur Cirebonan, penguatan narasi sejarah di ruang publik, hingga digitalisasi budaya menjadi langkah yang tak bisa ditunda.
Di usia ke-544 ini, Cirebon dihadapkan pada persimpangan: menjadi penonton dalam arus globalisasi, atau tampil sebagai pemain dengan identitas kuat.
Semangat “kacirebonan” dan filosofi “Kulanun” yang digaungkan bukan sekadar slogan, melainkan ajakan untuk membangun masa depan tanpa kehilangan jati diri.
Sebab di era digital, yang bertahan bukan yang paling kuat melainkan yang paling mampu beradaptasi tanpa melupakan asal-usulnya.(*)




