![]() |
| Anggota DPRD Kota Bekasi, Sarwin Edi Effendi (topi kuning) saat menyerahkan bantuan kepada warga terdampak di Cimuning. |
inijabar.com, Kota Bekasi - Insiden ledakan dan kebakaran hebat di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE) Cimuning, Mustikajaya, menyisakan duka mendalam serta kerugian materiil yang besar bagi warga sekitar.
Warga yang rumah dan usahanya hancur dilaporkan belum menerima bantuan, maupun komunikasi resmi dari pihak pengelola SPBE hingga hari ini, Jumat (3/4/2026).
Terpantau di lapangan, dampak kerusakan paling parah dirasakan oleh warga di lingkungan RW 003, khususnya mereka yang tinggal di wilayah RT 001 dan RT 002.
Berdasarkan data dari Kelurahan Cimuning, tercatat sedikitnya 50 Kepala Keluarga (KK), terdampak langsung oleh peristiwa yang terjadi pada Rabu malam tersebut.
Anggota Komisi I DPRD Kota Bekasi, Sarwin Edi Effendi, yang menyambangi lokasi untuk menyalurkan bantuan sembako, menyayangkan sikap pihak perusahaan yang terkesan lepas tangan.
"Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari pengurus RT dan RW, sampai saat ini belum ada pihak dari pemilik SPBE yang datang memberikan bantuan atau sekadar berkomunikasi dengan warga terdampak. Padahal, warga sangat membutuhkan kepastian," ujar Sarwin di lokasi kejadian, Jumat (3/4/2026).
Sarwin menegaskan, DPRD Kota Bekasi akan mengawal aspirasi warga agar pihak SPBE bertanggung jawab penuh, atas kerugian yang ditimbulkan.
Politisi partai Golkar itu juga menyoroti aspek keselamatan kerja (safety) perusahaan, yang dinilai lemah karena kebocoran gas sudah terjadi sebelum ledakan, namun tidak mampu diantisipasi dengan cepat.
"Kami mendorong pemerintah dan menuntut pemilik SPBE untuk bertanggung jawab. Banyak warga yang kehilangan mata pencaharian, ada kios yang hancur, kontrakan habis. Mereka sekarang terpaksa mengungsi di rumah saudara atau orang tua," ungkap Sarwin.
Perihal permintaan warga untuk mengevaluasi lokasi SPBE, Sarwin menyatakan bahwa keberadaan industri berisiko tinggi di lingkungan padat penduduk, harus menjadi bahan pertimbangan serius dalam perizinan ke depan.
"Ke depannya, operasional SPBE yang ada di Kota Bekasi harus dievaluasi. Kami ingin izin usaha seperti ini harus jauh dari pemukiman warga untuk menghindari korban jiwa dan kerugian harta benda seperti ini," tegas Sarwin.
Keluhan serupa disampaikan oleh Manah Susilowati, warga RW 003 yang kios nasi uduknya di depan SPBE rata dengan tanah. Ia mengaku, hingga kini dirinya masih mengalami trauma berat dan belum bisa kembali beraktivitas.
"Semua perabotan dan bangunan kios saya habis, hancur semua. Sampai sekarang belum ada bantuan dari pihak SPBE atau Pertamina. Saya trauma, kalau dengar suara geluduk saja rasanya seperti ada ledakan lagi," tutup Manah.
Sebelumnya, kebakaran SPBE Cimuning diduga dipicu oleh kebocoran gas saat proses pengisian tabung. Meski tidak ada korban jiwa, belasan orang dilaporkan mengalami luka bakar serius dan saat ini masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Bekasi dan Jakarta. (Pandu)




