Sejumlah Ortu Calon Siswa SMAN 1 Kota Bekasi Kaget Nilai Jalur Prestasi Dipotong Misterius

Redaktur author photo
Sejumlah orang tua calon siswa SMAN 1 Kota Bekasi yang merasa ada kejanggalan dalam nilai jalur prestasi

inijabar.com, Kota Bekasi - Pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMAN 1 Kota Bekasi yang masuk kategori Sekolah Maung (Manusia Unggulan) di Jawa Barat, dipertanyakan menyusul adanya dugaan ketidaktransparanan dalam pemrosesan data.

Sistem seleksi kedapatan memotong nilai calon peserta didik jalur prestasi non-akademik secara sepihak, hingga puluhan poin, yang berujung pada terdepaknya calon murid dari kuota penerimaan.

Dugaan kejanggalan sistem ini memicu gelombang protes dari para orangtua murid, yang mendatangi gedung pelayanan sekolah menjelang pengumuman resmi pada 8 Juni 2026 mendatang.

Salah satu orangtua wali, Ade Kumala Sari (43), mengeluhkan nilai putrinya yang mendaftar lewat jalur kompetensi kepemimpinan (mantan Ketua OSIS SMPN 2 Babelan), mendadak menyusut drastis sebanyak 51 poin pada Kamis (4/6/2026) pagi.

“Yang saya pertanyakan, kenapa nilai anak saya bisa dipotong sampai 51 poin, dari 368,08 menjadi 317,08 dan akhirnya keluar dari kuota. Kami hanya mendapat penjelasan lisan bahwa sistem sedang *maintenance*,” ujar Ade di lokasi.

Ade menilai, argumen pemeliharaan jaringan (maintenance) tersebut janggal dan tidak logis. Pasalnya, saat nilai putrinya terjun bebas, terdapat calon siswa lain dari sekolah yang sama yang sebelumnya sudah tereliminasi di papan bawah, mendadak kembali masuk ke dalam zona kuota penerimaan.

“Teman anak saya yang sebelumnya sudah tidak masuk klasemen tiba-tiba pagi ini masuk lagi ke dalam kuota. Ini yang membuat kami bingung dan meminta penjelasan yang jelas,” kata Ade menambahkan.

Bukan hanya masalah fluktuasi nilai yang misterius, validitas linimasa (timeline) SPMB juga disorot. Sesuai jadwal operasional, tahapan verifikasi dan validasi berkas seharusnya ditutup total pada Selasa (2/6/2026) pukul 23.59 WIB. Namun, aktivitas verifikasi data baru terpantau masih berjalan di sistem hingga Rabu (3/6/2026) malam.

“Saya memantau sistem sejak subuh sampai sore hari tidak ada perubahan. Tetapi setelah magrib muncul lagi verifikasi baru. Padahal jadwalnya sudah masuk masa uji kompetensi dan sanggah. Kalau begitu, untuk apa ada timeline kalau pelaksanaannya tidak sesuai?” ungkap perempuan yang juga berprofesi sebagai guru tersebut.

Ade mengingatkan, bahwa ketidakkonsistenan panitia dalam mengelola data SPMB, berisiko merusak kondisi psikologis anak-anak yang telah berjuang secara jujur melalui jalur prestasi. Ia menegaskan, pihak keluarga siap menerima kekalahan secara lapang dada, apabila persaingan berjalan secara sehat dan transparan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan ataupun klarifikasi resmi yang dikeluarkan oleh pihak panitia pelaksana SMAN 1 Kota Bekasi, maupun Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah III Jawa Barat terkait kekacauan data pada sistem SPMB tersebut.

"Kami butuh jawaban yang logis dan transparan dari pemangku kebijakan. Sampai sekarang tidak ada jaminan apakah nama anak-anak yang keluar dari kuota akan kembali atau tidak. Sebagai orangtua, kami merasa dirukgikan," pungkasnya. (Pandu)

Share:
Komentar

Berita Terkini