Sempat Tembus Batas Maksimal di SPMB SMAN 18 Bekasi, Akhrnya Kandas Misterius

Redaktur author photo

inijabar.com, Kota Bekasi - Pelaksanaan Seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB/SPMB) SMA Negeri tahun 2026 di Jawa Barat, kembali diwarnai isu krusial terkait keandalan sistem digital. Kali ini, sebuah anomali nilai ekstrem, ditemukan pada Jalur Prestasi Akademik Nilai Rapor di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi.

Berdasarkan tangkapan layar situs resmi spmb.jabarprov.go.id yang sempat viral di media sosial, seorang calon siswa berinisial ASR tercatat menduduki peringkat pertama di SMAN 18 Kota Bekasi, dengan skor akhir mencapai 426,90.

Angka tersebut memicu protes keras dari orang tua murid, karena dinilai tidak masuk akal secara matematis. Berdasarkan ketentuan pembobotan resmi, akumulasi nilai rapor (bobot 50 persen dari skor maksimal 500), dikombinasikan dengan Tes Kemampuan Akademik/TKA (bobot 50 persen dari skor maksimal 200), seharusnya menghasilkan batas skor sempurna di angka 350.

Menariknya, kejanggalan sistem tidak berhenti di satu sekolah. Berdasarkan pelacakan pada situs SPMB Jabar, nama dan nomor NISN calon siswa yang sama dengan torehan skor serupa (426,90), juga sempat terinput di dasbor ranking sementara SMAN 3 Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, meskipun statusnya berada di luar kuota.

Pihak panitia verifikasi di tingkat sekolah pun tak mampu berbuat banyak, menghadapi fenomena pelonjakan nilai yang menembus plafon kalkulasi ini. Saat dikonfirmasi, panitia di SMAN 18 Kota Bekasi menegaskan, bahwa kewenangan penuh atas pengelolaan basis data dan performa sistem, berada di tangan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

"Kita juga nggak tau mas soal lonjakan nilai, semua itu kan sistem dari provinsi," ujar salah satu panitia verifikasi SMAN 18 Kota Bekasi saat ditemui di lokasi, Selasa (9/6/2026) siang.

Menurutnya, pihak sekolah hanya bertindak sebagai pelaksana teknis yang menerima daftar nama, yang diteruskan oleh sistem pusat. Kendati demikian, temuan ini langsung direspons untuk menghindari kegaduhan lebih lanjut.

"Kami jika menemukan hal seperti ini hanya melaporkan saja ke Jabar, sisanya tinggal menunggu tindakan dari sana, hari ini sudah kami laporkan kok," tegasnya.

Berdasarkan pantauan tim inijabar.com, pada Selasa (9/6/2026) pukul 19.00 WIB, nama calon siswa bersangkutan terpantau sudah tidak lagi terlihat atau menghilang dari sistem klasemen sementara di sekolah tersebut, mengindikasikan adanya upaya perbaikan atau penarikan data secara manual dari pusat.

Hilangnya nama tersebut dari sistem memang menyelesaikan satu riak kecil, namun tidak menghapus kritik mendasar terhadap performa Dinas Pendidikan Jawa Barat. Insiden skor 'jebol' ini menambah panjang daftar hitam karut-marut digitalisasi PPDB Jabar, yang terus berulang setiap tahunnya.

Hanya dalam kurun waktu beberapa hari terakhir sejak pendaftaran dibuka, para orang tua murid dan pengamat pendidikan disuguhi berbagai persoalan teknis. Sebelum isu pelonjakan nilai ini mencuat, sistem SPMB Jabar 2026 juga sempat dikeluhkan akibat adanya perubahan skor secara mendadak pada akun beberapa pendaftar, hingga sengkarut kalkulasi kuota daya tampung sekolah yang tidak sinkron.

Meski pihak Disdik Jabar berulang kali melakukan klarifikasi dan mengklaim telah melakukan mitigasi, rentetan glitch dan ketidakstabilan server ini memperlihatkan bahwa infrastruktur digital yang mereka kelola, tampak belum siap menghadapi beban kerja seleksi massal.

Publik kini mendesak adanya transparansi dan audit total terhadap sistem IT PPDB Jabar. Evaluasi ini dinilai mendesak agar asas keadilan, transparansi, dan akuntabilitas dalam pemenuhan hak pendidikan anak-anak di Jawa Barat, tidak terus-menerus dikorbankan oleh kegagalan sistem operasional. (Pandu)

Share:
Komentar

Berita Terkini