inijabar.com, Majalengka – Realisasi investasi di Kabupaten Majalengka menunjukkan kondisi yang menarik dalam tiga tahun terakhir. Jumlah proyek investasi melonjak drastis, tetapi nilai investasi justru stagnan di kisaran Rp3 triliun dan kembali mengalami penurunan pada 2025.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat dalam publikasi Indikator Ekonomi Provinsi Jawa Barat 2025 mencatat total investasi yang berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp3,15 triliun pada 2023. Nilai tersebut naik menjadi Rp3,60 triliun pada 2024, namun kembali turun menjadi Rp3,36 triliun pada 2025.
Di sisi lain, jumlah proyek investasi justru melonjak tajam. Pada 2023 terdapat 652 proyek, meningkat menjadi 1.553 proyek pada 2024, dan kembali naik menjadi 2.198 proyek pada 2025. Dalam dua tahun, jumlah proyek bertambah lebih dari 237 persen.
Mengapa investasi Majalengka turun?
Menurut Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, penurunan investasi pada 2025 terutama dipicu melemahnya investasi asing (PMA).
Nilai PMA turun dari Rp2,27 triliun pada 2023 menjadi Rp1,77 triliun pada 2024, lalu kembali menyusut menjadi Rp1,60 triliun pada 2025. Sementara itu, investasi dalam negeri (PMDN) meningkat dibandingkan 2023 meski mengalami sedikit koreksi pada 2025 menjadi Rp1,77 triliun.
Kondisi tersebut membuat investasi domestik menjadi penopang utama realisasi investasi di Kabupaten Majalengka.
Bagaimana posisi Majalengka dibanding daerah lain di Jawa Barat?
Jika dibandingkan dengan daerah lain, nilai investasi Majalengka masih tertinggal cukup jauh.
Pada 2025, Kabupaten Bekasi mencatat investasi sebesar Rp81,84 triliun, Karawang Rp70,78 triliun, Bogor Rp32,47 triliun, Subang Rp18,20 triliun, Purwakarta Rp12,47 triliun, dan Sumedang Rp5,63 triliun.
Sementara itu, investasi Majalengka sebesar Rp3,36 triliun hanya sedikit lebih tinggi dibanding Indramayu dan masih berada di bawah Kabupaten Cirebon yang mencapai sekitar Rp4,02 triliun.
Apa penyebab investasi belum melonjak?
Margaretha menjelaskan bahwa pertumbuhan investasi di Majalengka lebih banyak didorong bertambahnya jumlah proyek daripada masuknya investasi bernilai besar. Akibatnya, rata-rata nilai investasi per proyek terus mengecil.
"Kondisi itu membuat realisasi investasi daerah belum mengalami lonjakan yang cukup untuk mengejar daerah-daerah dengan pertumbuhan investasi paling pesat di Jawa Barat," ujarnya.
Meski jumlah proyek investasi di Majalengka terus meningkat setiap tahun, nilai investasinya belum menunjukkan pertumbuhan signifikan. Melemahnya investasi asing menjadi salah satu penyebab utama sehingga Majalengka masih tertahan di kelompok daerah dengan nilai investasi menengah di Jawa Barat.(*)



