Persib Rangkul PSGC, Bupati Ciamis: Mimpi 20 Tahun Akhirnya Jadi Nyata

Redaktur author photo

 

Pres confrence Bupati Ciamis dan CEO Persib di Ciamis

inijabar.com, Ciamis – Kabar menggembirakan datang bagi dunia sepak bola Kabupaten Ciamis. Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, mengungkapkan rasa syukur atas rencana kolaborasi antara Persib Bandung dan PSGC Ciamis yang diyakini menjadi titik balik kebangkitan klub kebanggaan masyarakat Tatar Galuh.

Herdiat mengaku selama ini pengelolaan PSGC menghadapi tantangan besar, terutama setelah promosi ke Liga 2. Menurutnya, tuntutan kompetisi saat ini jauh berbeda dibandingkan 8 hingga 10 tahun lalu karena membutuhkan manajemen profesional, sumber daya yang memadai, serta infrastruktur yang kuat.

"Kami sempat putus asa. Saat PSGC promosi ke Liga 2, pengelolaannya harus benar-benar profesional. Dari sumber daya hingga infrastruktur, kami merasa masih sangat tertinggal," ujarnya.

Ia menilai kesediaan Persib untuk membimbing dan berkolaborasi dengan PSGC merupakan berkah besar yang membuka harapan baru bagi perkembangan sepak bola di Ciamis.

Salah satu poin penting dalam kerja sama tersebut adalah pembentukan akademi sepak bola yang akan dibina langsung oleh Persib. Akademi ini akan fokus membina pemain muda usia 16 hingga 20 tahun sebagai bagian dari regenerasi pesepak bola profesional.

Menurut Herdiat, kehadiran akademi tersebut merupakan mimpi yang telah lama diidamkan sejak PSGC masih berlaga di kasta tertinggi sepak bola nasional. Selama ini memang telah banyak Sekolah Sepak Bola (SSB) di Kabupaten Ciamis, namun akademi yang dikelola secara profesional bersama Persib dinilai akan membawa kualitas pembinaan ke level yang lebih tinggi.

Selain pembinaan pemain muda, kerja sama ini juga memastikan PSGC tetap menggunakan stadion kebanggaan masyarakat Ciamis sebagai kandang tim.

Yang paling melegakan bagi masyarakat, identitas klub juga dipastikan tidak berubah. Nama PSGC tetap dipertahankan meski menjalin kolaborasi dengan Persib.

"Bagi kami ini sebuah kehormatan sekaligus kebahagiaan. Yang paling membanggakan, Persib bersedia membina sepak bola generasi muda di Ciamis, PSGC tetap menggunakan stadion kebanggaan kita, dan yang lebih membahagiakan lagi, nama PSGC tidak berubah. Apa yang selama ini kami cita-citakan akhirnya mulai terwujud," kata Herdiat.

Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pembinaan sepak bola di Kabupaten Ciamis sekaligus memperkuat daya saing PSGC di kompetisi nasional. Dengan dukungan Persib, harapan masyarakat agar PSGC kembali berjaya kini semakin terbuka.

Sementara itu, CEO Persib Adhitia Putra Herawan menegaskan bahwa keputusan Persib Bandung untuk menjalin kolaborasi dengan PSGC Ciamis bukanlah keputusan yang diambil secara terburu-buru. Menurutnya, kerja sama tersebut lahir melalui proses diskusi internal yang cukup panjang dan diproyeksikan menjadi kemitraan jangka panjang.

"Persib ketika mengambil keputusan untuk berkolaborasi dengan Ciamis juga diskusi internal cukup panjang. Persib Bandung setiap keputusan yang kami ambil harus melalui diskusi yang cukup panjang," ujar Adhitia.

Ia menjelaskan, Persib memandang kerja sama dengan PSGC sebagai langkah strategis yang tidak hanya berorientasi pada satu musim kompetisi.

"Kami melihat kerja sama yang terjadi hari ini adalah kerja sama strategis yang bukan hanya ingin terjadi dalam satu musim. Kami ingin kerja sama ini berlangsung dalam jangka panjang antara Ciamis dan Persib Bandung."

Adhitia menyebut kolaborasi tersebut menjadi sejarah baru bagi kedua klub dan diyakini akan memberikan manfaat besar bagi pengembangan sepak bola, khususnya dalam pembinaan pemain muda.

"Alhamdulillah sejarah baru tercipta. Terjadi kolaborasi yang sangat strategis antara PSGC Ciamis dengan Persib Bandung."

Pembinaan Pemain Muda Butuh Kesabaran

Dalam kesempatan itu, Adhitia juga menyoroti pentingnya proses pembinaan pemain muda. Ia mencontohkan perjalanan Beckham Putra Nugraha, yang membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga menjadi salah satu pemain kunci Persib.

"Beckham itu dididik bertahun-tahun. Tidak mungkin usia 15 tahun langsung dilatih di tim senior. Butuh waktu. Karena mendapatkan menit bermain yang cukup, Beckham hari ini bisa menjadi salah satu pemain kunci di Persib."

Menurutnya, keberhasilan pemain muda tidak hanya ditentukan oleh kualitas pembinaan, tetapi juga kesempatan bermain yang diberikan klub.

"Kuncinya adalah pembinaan dan juga waktu. Pertanyaannya, apakah Persib dan Bobotoh cukup sabar memberikan menit bermain dan waktu bagi pemain muda agar prestasinya bisa berkembang. Mencari keseimbangan itu yang susah."

Karena itu, Persib berupaya menjaga keseimbangan antara tuntutan meraih prestasi dengan memberikan ruang bagi talenta muda untuk berkembang.

"Kami tetap harus fokus terhadap prestasi. Di waktu yang bersamaan harus ada ruang agar para pemain muda kami yang potensial memiliki kesempatan berkembang."

Bobotoh Dinilai Jadi Anugerah bagi Persib

Adhitia juga menyinggung besarnya dukungan suporter Persib, termasuk masyarakat Ciamis yang dikenal sebagai Bobotoh. Menurutnya, loyalitas suporter menjadi keunggulan yang tidak dimiliki banyak klub di Indonesia.

"Kalau bicara suporter, saya yakin masyarakat Ciamis 100 persen tetap Bobotoh. Itu sesuatu yang sangat baik. Saya bilang itu adalah anugerah dari Tuhan. Tidak ada klub di Indonesia yang punya anugerah seperti yang Persib punya."

Ia membandingkan dengan daerah lain yang basis suporternya terbagi ke beberapa klub, sementara Persib memiliki dukungan yang sangat kuat dan menyebar di berbagai wilayah Jawa Barat.

Kolaborasi Persib dan PSGC diharapkan menjadi fondasi pembinaan sepak bola yang berkelanjutan sekaligus membuka jalan lahirnya lebih banyak pemain muda berbakat dari Ciamis menuju level profesional.(diki)

Share:
Komentar

Berita Terkini