![]() |
| FKLPID Jabar bersama BLK Kabupaten Indramayu |
inijabar.com, Indramayu - Upaya transformasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari sektor informal menuju sektor formal yang terampil, terus digenjot di tingkat provinsi sebagai bagian dari strategi pengurangan angka pengangguran di Jawa Barat.
Para pencari kerja lokal kini mulai diarahkan untuk menembus pasar kerja internasional, melalui sektor industri manufaktur strategis di luar negeri.
Langkah realisasi tersebut diwujudkan melalui program bertajuk '1000 Alumni BLK Work in Japan", yang diinisiasi oleh Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dengan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat, bersama PT Brexa Indonesia dan dinas tenaga kerja setempat.
Sebagai langkah awal, sebanyak 125 alumni Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Indramayu mengikuti sosialisasi, wawancara, serta pengujian kemampuan fisik sebagai proses seleksi awal program pemagangan tersebut.
Ketua FKLPID Jawa Barat, Benny Tunggul, menegaskan bahwa keberhasilan sebuah lembaga pelatihan, tidak lagi diukur sekadar dari lembar sertifikat yang diterbitkan, melainkan dari daya serap lulusannya di dunia kerja.
"Salah satu indikator yang penting dari BLK, bukan dengan berhasilnya menghasilkan lulusan peserta pelatihan dan sertifikat yang dihasilkan. Namun, dari berapa banyak serapan atau penempatan di industri atau wirausaha, ini menjadi tujuan utama," ujar Benny di BLK Kabupaten Indramayu, Kamis (2/7/2026).
Benny memaparkan, program ini menargetkan penempatan 100 alumni terampil dari masing-masing BLK di 10 kabupaten/kota di Jawa Barat, yang selama ini dikenal sebagai wilayah kantong pekerja informal.
"Seluruh peserta yang lolos seleksi, nantinya akan diberdayakan melalui penempatan kerja formal pada sektor industri otomotif terkemuka di Jepang, seperti Isuzu dan Daihatsu," jelas Benny.
Guna meringankan beban para pencari kerja, Benny memastikan, bahwa seluruh proses keberangkatan dalam program utama ini sama sekali tidak dipungut biaya. Pihak perusahaan mitra di Jepang akan melakukan sistem penalangan dana terlebih dahulu, hingga para peserta resmi mengikuti permagangan di sana.
Sementara itu, Kepala BLK Kabupaten Indramayu, Sukirman, menilai program kolaborasi non-APBD ini memberikan nilai tambah yang signifikan bagi portofolio lulusan daerah. Melalui skema penempatan formal ke luar negeri, kompetensi para alumni dapat diuji secara global.
"Indramayu menjadi kantong TKI untuk tenaga kerja informal. Dengan adanya rekrutmen alumni melalui program magang Jepang di industri, ini meningkatkan Tenaga Kerja Indonesia yang terampil dengan kompetensi di sektor formal," kata Sukirman menjelaskan.
Setelah merampungkan agenda pembuka di Kabupaten Indramayu, FKLPID Jawa Barat menjadwalkan rangkaian sosialisasi dan rekrutmen serupa secara estafet di sembilan wilayah lainnya, yakni Kabupaten Cianjur, Sukabumi, Tasikmalaya, Majalengka, Pangandaran, Ciamis, Bandung, dan Cirebon.
Melalui perluasan program ini, pemerintah daerah diharapkan dapat menindaklanjutinya, dengan menyusun program pelatihan bahasa Jepang berkelanjutan di masing-masing BLK, guna mencetak komoditas tenaga kerja yang kompetitif dan siap bersaing di pasar kerja internasional. (Pandu)



