Kerjasama Terobosan Baru Tingkatkan Kualitas Pekerja Migran Indonesia di Malaysia

Redaktur author photo
IUC Malaysia bekerjasama dengan STT Bina Tunggal dan FKLPID

inijabar.com, Kota Bekasi - Upaya peningkatan kualitas dan daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) Pekerja Migran Indonesia (PMI) di mancanegara, terus didorong melalui kolaborasi pendidikan lintas negara.

Langkah ini direalisasikan melalui perumusan Integrated Work-Based Learning Ecosystem (IWBLE), sebuah konsep yang mengintegrasikan perkuliahan akademis dan pengalaman kerja langsung di dunia industri.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Internasional bertajuk 'Integrated Work-Based Learning Ecosystem for Indonesian Migrant Workers: A Human Capital Development Framework', yang diselenggarakan oleh Innovative University College (IUC) Malaysia, bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Bina Tunggal dan Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dengan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat.

Melalui ekosistem berbasis Work-Based Learning (WBL) ini, para peserta magang maupun pekerja memiliki kesempatan untuk berkuliah sambil bekerja di industri perhotelan bintang 3 hingga 5 di Malaysia.

Kurikulum Akademis Terintegrasi Industri

Program WBL ini berlandaskan pada Memorandum of Understanding (MoU), antara Direktorat Jenderal Bina Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kemenaker RI dengan Innovative University College.

Diketahui, kurikulum dan sistem pembelajarannya telah mendapatkan persetujuan dari Malaysian Qualifications Agency (MQA), serta Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia.

Chairperson Innovative University College, Major Mohd Yusri Abdul Rahim, menjelaskan bahwa para peserta program WBL merupakan kandidat pilihan, yang telah lolos tahapan seleksi dari universitas dan pihak industri.

"Basis peserta WBL adalah belajar di universitas selama mereka bekerja di industri perhotelan. Mereka memiliki tanggung jawab menyelesaikan pendidikan akademik selama tiga tahun. Melalui kombinasi pembelajaran tatap muka, kelas daring, dan proyek berbasis industri, program ini dirancang untuk meningkatkan employability secara tepat dan terukur," kata Yusri, saat ditemui di BLK Kompetisi Jabar, Bekasi Timur, Kamis (6/8/2026).

Sementara itu, Ketua FKLPID Jawa Barat sekaligus perwakilan LPPM STT Bina Tunggal, Benny Tunggul, menegaskan pentingnya membedakan antara skema program penempatan kerja biasa dengan skema pelatihan vokasi berbasis WBL.

Menurutnya, skema IWBLE menawarkan pendekatan Human Capital Development berkelanjutan, yang juga sangat relevan untuk diadopsi oleh Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), guna menaikkan kelas para calon PMI.

"Program WBL berbasis pada pelatihan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja dan kompetensi di pasar global. Ke depan, pelaksanaan WBL sebaiknya dikembangkan menjadi ekosistem IWBLE. Ini menjadi investasi terbaik untuk menciptakan SDM yang berdaya saing, adaptif, serta memiliki pengakuan kompetensi nasional maupun internasional," tutur Benny.

Senada, Higher Education Consultant dari Innovative University College, Hamdan Daniel, menilai model pembelajaran ini membawa nilai tambah (value added) yang signifikan bagi para peserta karena membalik pola pendidikan konvensional.

"Selama ini dunia pendidikan menyerbu dunia kerja setelah mahasiswa menyelesaikan studinya. Melalui WBL, dunia kerja dan dunia pendidikan diintegrasikan secara simultan. Hal ini menghasilkan konsep lifelong learning dan sustainable human development, sekaligus memperkuat kolaborasi lintas batas (cross-border collaboration) antara Indonesia dan Malaysia," jelas Hamdan.

Sebagai tindak lanjut dari seminar internasional ini, para akademisi dari STT Bina Tunggal, STIT Al-Qurani Bengkulu, dan IUC Malaysia, dijadwalkan melakukan riset kolaboratif yang nantinya diterbitkan dalam jurnal internasional. (Pandu)

Share:
Komentar

Berita Terkini