![]() |
| STT Bina Tunggal saat mengunjungi Deenul Islamic School di Songkhla, Thailand Selatan. |
inijabar.com, Kota Bekasi - Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Bina Tunggal, memperluas jejaring akademiknya hingga ke Malaysia dan Thailand, sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan mutu serta relevansi pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di tingkat internasional.
Kerja sama lintas negara ini diwujudkan melalui serangkaian kegiatan strategis, mulai dari penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), seminar internasional, riset bersama, hingga Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM).
Di Malaysia, STT Bina Tunggal menggelar Seminar Internasional bertajuk 'Integrated Work-Based Learning Ecosystem for Indonesian Migrant Workers: A Human Capital Development Framework', bekerja sama dengan Innovative University College.
Seminar ini merumuskan model Integrated Work-Based Learning Ecosystem (IWBLE), untuk membangun kerangka pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang berkelanjutan, adaptif, dan berbasis kolaborasi lintas negara.
Ketua LPPM STT Bina Tunggal sekaligus Ketua FKLPID Disnaker Provinsi Jawa Barat, Benny Tunggul, menekankan pentingnya jejaring global dalam menjawab tantangan zaman.
"Kerja sama internasional menjadi instrumen strategis untuk mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara lebih berkualitas, relevan, berdampak, dan berorientasi global," ujar Benny Tunggul dalam keterangannya, Rabu (12/8/2026).
Pada kesempatan yang sama, Chairperson of Innovative University College Malaysia, Mohd Yusri Abdul Rahim, memaparkan penerapan Work-Based Learning (WBL) di lembaganya, yang menggabungkan akademis dan industri.
"WBL menggabungkan teori di kelas dengan pelatihan kerja praktis selama 24 bulan di lingkungan kerja nyata, seperti hotel berbintang 3 hingga 5. Kurikulum dirancang bersama industri yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja," kata Mohd Yusri.
Sementara itu, Industrial Consultant Malaysia, Hamdan Daniel, menyebut bahwa pengembangan kapasitas SDM merupakan investasi jangka panjang.
"Human capital development menjadi investasi terbaik untuk masa depan yang berdaya saing, berkelanjutan, dan menciptakan nilai bangsa. Keterampilan, pengetahuan, kompetensi, produktivitas, dan inovasi adalah komponen utamanya," tutur Hamdan.
Melalui riset bersama ini, model IWBLE diharapkan dapat diterapkan oleh Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) dan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), dalam meningkatkan klasifikasi serta sertifikasi pekerja migran.
Selain sektor ketenagakerjaan, STT Bina Tunggal juga menggelar PKM Internasional di Sekolah Rendah Agama Attarbiyah Al-Islamiyah (SRAATI) Perlis, Malaysia, untuk membina guru-guru Pendidikan Agama Islam.
Rangkaian PKM Internasional kemudian berlanjut ke Deenul Islamic School di Songkhla, Thailand Selatan, dengan fokus pada penguatan karakter berbasis keislaman.
Kepala Sekolah Deenul Islamic School, Asst. Prof. Dr. Musakkid Himphinit, menyambut positif kehadiran tim dari Indonesia.
"Deenul Islamic School merupakan sekolah berasrama Islam yang sangat terbuka terhadap kerja sama internasional. Kekuatan utama pembelajaran karakter di sini diposisikan sebagai Islamic Character-Based Holistic Education, yaitu pendidikan yang mengintegrasikan iman, ilmu, akhlak, disiplin, kemandirian, kepedulian sosial, dan kemampuan berkolaborasi," pungkas Musakkid.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan internasional tersebut, Sekolah Tinggi Teknologi Bina Tunggal memberikan beasiswa pendidikan kepada siswa Deenul Islamic School. Beasiswa diberikan oleh Yayasan Bina Tunggal yang disampaikan langsung oleh Ketua Yayasan Bina Tunggal, Zaiman M. Affan. (Pandu)



