![]() |
| Anggota DPR RI Sudjatmiko saat berpose bersama dengan parah pemenangan kejuaraan Pencak silat |
inijabar.com, Depok - Sebanyak 290 pesilat mengikuti kejuaraan pencak silat Pagar Nusa Depok Championship 3 2026 Piala Dandim 0508 Kota Depok yang berlangsung, di Gedung Balai Rakyat, Sukmajaya, Kota Depok, Minggu (18/10/2026).
Ajang kejuaraan tingkat daerah ini diselenggarakan khusus bagi pesilat perguruan Pagar Nusa di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang berasal dari wilayah Depok, Bogor, dan sekitarnya. Kegiatan ini juga digelar sekaligus dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2026.
Ketua Panitia Pelaksana, Mochammad Sodiq menyampaikan bahwa kompetisi yang berlangsung selama satu hari penuh tersebut mempertandingkan berbagai kategori berdasarkan kelompok usia dan jenjang pendidikan.
"Kategori yang dipertandingkan mencakup Dini 1 dan Dini 2 untuk tingkat Sekolah Dasar (SD), serta Pelajar 1 dan Pelajar 2 untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA)," ujar Sodiq kepada awak media di lokasi acara, Minggu (18/10/2026).
Pada akhir kompetisi, kontingen Pagar Nusa Kecamatan Tapos, Kota Depok, keluar sebagai pemenang juara umum.
Mendorong Pembinaan Atlet Muda dan Pelestarian Budaya
Mochammad Sodiq menjelaskan penyelenggaraan kejuaraan ini salah satunya bertujuan sebagai wadah pembinaan prestasi olahraga generasi muda, sekaligus juga sebagai bentuk pelestarian tradisi pencak silat yang memiliki keterikatan sejarah dengan perjuangan bangsa.
Menurutnya ajang ini merupakan pelaksanaan gelaran ketiga dan diharapkan dapat diselenggarakan secara rutin setiap tahun. Dalam pelaksanaannya, kata Sodiq panitia bekerja sama dengan sejumlah pihak terkait diantaranya mulai dari Kodim 0508/Depok, Koramil Sukmajaya, Pemerintah Kota Depok, serta Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Depok.
"Panitia menyediakan total hadiah bernilai puluhan juta rupiah yang terbagi dalam bentuk uang pembinaan, piala, perlengkapan peserta seperti kaus, serta fasilitas pendukung lainnya," kata Sodiq.
Sodiq menambahkan bahwa keberadaan Kota Depok yang dinilai strategis diharapkan dapat menjadikan wilayah ini sebagai salah satu pusat pembinaan atlet muda berprestasi yang siap ditampilkannya pada ajang tingkat provinsi maupun nasional.
Komisi V DPR RI Dorong Regulasi dan Peran KONI
Dalam kegiatan tersebut turut juga dihadiri Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PKB, Sudjatmiko. Dia memberikan pandangannya terkait pentingnya pembinaan olahraga bela diri tradisional pencak silat sejak usia dini.
Sudjatmiko menilai kejuaraan ini menjadi instrumen awal dalam menjaring calon atlet pencak silat potensial yang kelak dapat dibina hingga ke jenjang yang lebih tinggi.
"Ini salah satu cara untuk mencari bibit atlet pencak silat dari tingkat dasar ya. Harapannya ke depan dapat ditingkatkan ke tingkat provinsi, nasional, hingga internasional, mengingat pencak silat juga telah dipertandingkan dalam ajang olahraga tingkat dunia Olimpiade," kata Sudjatmiko.
Oleh karenanya, dia mendorong Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan pihak terkait untuk merumuskan regulasi pembinaan yang terstruktur berdasarkan tingkatan usia, mulai dari jenjang sekolah dasar, menengah, perguruan tinggi, hingga kategori umum. Selain itu, Sudjatmiko juga menekankan pentingnya memperbanyak frekuensi kompetisi resmi di luar lingkungan sekolah.
Penanaman Nilai Kedisiplinan dan Karakter
Selain sebagai cabang olahraga prestasi, Sudjatmiko menyoroti peran pencak silat dalam membentuk karakter, kedisiplinan, dan jiwa sportivitas generasi muda.
Menurutnya, aturan pertandingan pencak silat mengajarkan kejujuran, sportivitas dan penghormatan terhadap lawan. Di mana penilaian dilakukan secara terukur dan pelanggaran terhadap aturan keselamatan berkonsekuensi pada pengurangan nilai.
"Ajang seperti ini menanamkan nilai disiplin dan kesadaran untuk saling menghormati, baik saat menang maupun kalah. Maka menurut saya pembinaan karakter ini penting bagi generasi muda," tuturnya.
Sudjatmiko menambahkan bahwa kegiatan kejuaraan yang dilakukan Pagar Nusa juga menyisipkan nilai-nilai moral dan religius, seperti tradisi berdoa dan penghormatan kepada orang tua serta guru sebelum bertanding.
Bekal keterampilan bela diri tersebut dinilai bermanfaat positif bagi para peserta, baik sebagai modal awal jika ingin berkarir di institusi TNI/Polri maupun sebagai sarana perlindungan diri dari potensi adanya serangan kejahatan. (Risky)

