![]() |
| Jembatan penghubung warga Blok Truali Desa Kedokam Bunder Wetan Kecamatan Kedokan Bunder Indramayu diajukan warga karena sudah enam bulan tidak selesai-selesai pembangunannya. |
inijabar.com, Indramayu – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi merespons video viral yang memperlihatkan warga Blok Truali, Desa Kedokan Bunder Wetan, Kecamatan Kedokan Bunder, Kabupaten Indramayu, meluapkan kekesalan dengan melempari area proyek pembangunan Jembatan Kali Kapur.
Aksi tersebut dipicu keterlambatan pembangunan jembatan yang menurut warga telah berlangsung sekitar enam bulan. Selain itu, warga juga mengeluhkan kondisi jalan di sekitar lokasi proyek yang rusak akibat proses pembangunan.
Menanggapi hal itu, Dedi Mulyadi meminta masyarakat tetap bersabar. Ia memastikan proyek pembangunan Jembatan Kali Kapur masih terus berjalan dan keterlambatannya belum mengkhawatirkan.
"Jembatan tersebut tidak mengalami keterlambatan pembangunan. Saya sudah cek hanya minus empat persen. Artinya, masih bisa ditolerir keterlambatannya," ujar Dedi Mulyadi dalam keterangan tertulis, Minggu (8/11/2026).
Menurut Dedi, persoalan utama yang dirasakan warga saat ini adalah terganggunya akses transportasi karena kendaraan belum dapat melintasi jembatan yang masih dalam tahap pembangunan.
Sebagai solusi sementara, masyarakat diminta menggunakan jalan alternatif yang melewati jalan desa. Dedi memastikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga akan memperbaiki akses jalan tersebut.
"Jalan yang dilalui itu juga nantinya akan dibangun juga oleh Pemprov. Itu kan jalan desa. Nanti kita bangun lagi," katanya.
Ia menegaskan, jembatan yang masih dalam proses pembangunan tidak boleh dipaksakan untuk dilalui kendaraan karena dapat menghambat pekerjaan sekaligus membahayakan keselamatan pengguna jalan.
"Sekarang kalau mobil tidak boleh lewat ke jalan desa, ya gimana jembatan itu bisa terus dibangun," ujarnya.
Dedi juga mengimbau masyarakat agar tidak terpancing emosi. Menurutnya, pembangunan Jembatan Kali Kapur dilakukan untuk kepentingan masyarakat luas sehingga membutuhkan dukungan dan kesabaran semua pihak.
"Mohon sabar semuanya ya, mari kita menjaga apa yang kita kerjakan hari ini. Tidak terus-menerus saling mengikuti emosi dan egoisme masing-masing. Pembangunan untuk masyarakat bukan untuk kepentingan perorangan. Yang pakai juga masyarakat," tegasnya.
Di akhir keterangannya, Dedi mengingatkan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas selama proyek berlangsung. Ia tidak ingin jembatan yang belum selesai justru dipaksakan digunakan hingga memicu kecelakaan.
"Nanti jembatan roboh ada yang korban, ada yang meninggal, pemerintah juga yang disalahkan," pungkasnya.
Sebelumnya, warga merasa kecewa karena pembangunan Jembatan Kali Kapur telah berlangsung lebih dari 6 bulan dan belum kunjung rampung.
Dampak ke warga yakni pengalihan arus lalu lintas selama konstruksi membuat kendaraan tidak bisa melintas, sehingga warga harus menggunakan jalan alternatif di jalan desa yang ikut rusak akibat penumpukan volume kendaraan.
Kekecewaan memuncak hingga terjadi aksi damai, pemasangan baliho protes, serta aksi pelemparan ke area proyek oleh warga yang emosi.


