inijabar.com, Depok –Kapolsek Cimanggis, Jupriono menyatakan, pihaknya menurunkan sebanyak 155 personil aparat gabungan Polri, TNI, Pemerintah Daerah dan unsur potensi keamanan Natal dan Tahun Baru.
Hal itu dikatakan saat menggelar Apel Gelar Pasukan Operasi Lilin Jaya 2025, di lapangan Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Rabu (24/12/2025).
Jupriono menyampaikan apel gelar pasukan kali ini merupakan bentuk pengecekan kembali atas kesiapsiagaan petugas keamanan di titik-titik wilayah rawan kejahatan menghadapi perayaan Hari Raya Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
“Tadi kita lihat bersama-sama kekuatan pengamanannya, kita siapkan ada 155 personil gabungan. Dan itu sudah kita ploting di gereja-gereja yang ada di seluruh wilayah Cimanggis, ada sekitar 20 gereja yang melaksanakan ibadah. Kita siagakan di tengah masyarakat untuk mengamankan kegiatan saudara kita umat Nasrani,” ujar Kompol Jupriono.
Jupriono mengatakan, pihaknya menyiapkan satu posko pelayanan yang berada di titik pusat keramaian Terminal Jatijajar, Kota Depok. Hal itu dilakukan, sebagai upaya membantu masyarakat yang hendak bepergian atau berlibur ke luar kota maupun daerah.
“Karena Terminal Jatijajar ini kan merupakan terminal tipe A yang melayani Antar Kota dan Antar Provinsi (AKAP) ke Jawa Timur, Jawa Tengah maupun Jawa Barat. Di Posyan ini kita siapkan tenaga medis, tempat istirahat dan pelayanan-pelayanan lainnya yang mungkin kehilangan surat juga bisa kita layani, agar masyarakat tidak jauh-jauh ke kantor polisi,” katanya.
Dia menambahkan, bentuk pengamanan di sejumlah tempat ibadah gereja. Mulai sore hari ini mereka (personil aparat gabungan) sudah mulai melakukan tindak pengamanannya dengan sterilisasi gereja bersama-sama dari personil Polri, TNI dan unsur keamanan masyarakat lainnya.
“Kita pastikan, bahwa barang-barang yang ada di dalam area tempat ibadah itu betul-betul barang yang memang kita ketahui bukan merupakan barang berbahaya,” kata Jupriono.
Jumlah personil aparat yang disiagakan tiap Gereja. Kompol Jupriono mengungkapkan bahwa pihaknya juga akan memprioritaskan titik pengamanan di tiga rumah ibadah Gereja wilayah Cimanggis diantaranya seperti Gereja Gedeon, Santo Thomas, dan Bunda Maria.
“Tentunya ini personilnya agak lebih banyak dibanding gereja-gereja lainnya, tapi kalau untuk jamaah gereja lainnya hanya 500 orang atau 300 orang. Rata-rata dari gereja itu minimal dua personil dari Kepolisian, kemudian TNI dan potensi masyarakat juga kita libatkan untuk sama-sama membantu mengamankan kegiatan ibadah Natal,” jelasnya.
Anggota Polisi yang pernah bertugas di Kepala Unit Reskrim Jakarta Timur itu juga mengimbau anggota yang telah di tempatkan di titik lokasi tersebut dapat menjalankan tugasnya dengan mengedepankan pelayanan yang maksimal, bukan hanya sekadar penjagaan.
“Anggota atau petugas pengamanan betul-betul harus ‘Demonstratif dan Adaptif’. Artinya, petugas keamanan bukan hanya sebatas duduk, melihat, tetapi harus bergerak, menyelesaikan apa yang dibutuhkan di lokasi. Apa yang bisa dilakukan, bisa dibantu oleh petugas pengamanan terhadap jemaat, mulai dari menyeberangkan jemaat, atur lalu lintas, dan mengatur perparkiran, itu juga kita lakukan, jadi petugas keamanan tidak boleh hanya sebatas duduk melihat, tetapi harus bergerak dan melihat apa yang diperlukan, dibutuhkan di situ, harus bisa membantu,” ujar Jupriono.
Selain itu, pihaknya juga telah mengintruksikan kepada anggotanya untuk menjaga di sejumlah lokasi titik keramaian lainnya yang berpotensi terhadap gangguan keamanan dan ketertiban seperti tempat wisata.
“Liburan Natal dan Tahun Baru ini bersamaan dengan liburan anak-anak sekolah. Tentu kami mengingatkan kepada pengelola tempat wisata supaya lebih menjaga keselamatan pengunjung seperti di Setu Pedongkelan, Setu Jatijajar dan lainnya. Karena potensi berkumpulnya warga juga berbeda dengan hari-hari biasa ini berbarengan dengan hari libur anak sekolah,” terangnya.
Kaitan dengan metode tindakan pengamanan, Kapolsek yang baru saja meraih gelar Doktor Hukum itu mengungkapkan bahwa cara bertindak dalam menghadapi pengamanan perayaan Hari Raya Natal tentunya berbeda dengan Malam Tahun Baru.
“Kalau untuk perayaan tahun baru, kami sudah memploting titik-titik yang jadi kerawanan di wilayah kita. Termasuk kita juga sudah bentuk satu Tim Penindak supaya bisa keliling berpatroli, mobile untuk mengantisipasi potensi-potensi gangguan keamanan dan ketertiban di wilayah kita. Satu Tim Penindak untuk perayaan Natal pun juga ada, sudah ada yang akan berpatroli,” tandasnya. (Risky)




