![]() |
| Presiden RI Prabowo Subianto saat di acara Hari Buruh 2026 |
inijabar.com, Jakarta- Momen tak terduga terjadi saat Presiden RI menghadiri peringatan 2026 di kawasan (Monas), Jumat (1/5/2026). Dalam sambutannya di hadapan ribuan buruh, Prabowo melontarkan pertanyaan terkait program MBG (Makan Bergizi Gratis), yang belakangan menjadi salah satu program prioritas pemerintah.
“MBG itu bermanfaat atau tidak?” tanya Prabowo kepada massa buruh.
Alih-alih mendapat jawaban positif, ribuan buruh justru serempak menjawab lantang, “Tidaaak!”.
Prabowo Tegaskan Pentingnya MBG
Meski mendapat respons di luar ekpektasinya, Prabowo tetap menegaskan keyakinannya terhadap program tersebut.
“MBG itu sangat penting untuk anak-anak kita,” ujar Prabowo, menekankan bahwa program tersebut ditujukan untuk meningkatkan kualitas gizi generasi muda Indonesia.
Program MBG sendiri digagas sebagai upaya pemerintah dalam menekan angka stunting serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.
Reaksi Buruh Jadi Sorotan
Jawaban kompak dari para buruh ini langsung menjadi sorotan publik, terutama di media sosial. Banyak pihak menilai respons tersebut mencerminkan adanya jarak persepsi antara pemerintah dan kelompok pekerja.
Sejumlah buruh yang hadir menyebut bahwa kebutuhan mendesak saat ini bukan hanya program jangka panjang seperti MBG, melainkan peningkatan kesejahteraan, upah layak, serta perlindungan kerja.
Konteks May Day 2026
Peringatan tahun ini memang diwarnai berbagai tuntutan buruh, mulai dari kenaikan upah minimum, penghapusan outsourcing, hingga jaminan sosial yang lebih kuat.
Aksi yang terpusat di Monas berlangsung dengan pengamanan ketat, namun tetap kondusif. Ribuan buruh dari berbagai daerah turut hadir menyuarakan aspirasi mereka secara terbuka.
Miskomunikasi atau Kritik Terbuka?
Momen ini memunculkan pertanyaan: apakah jawaban “tidak” dari buruh merupakan bentuk penolakan terhadap program MBG, atau sekadar ekspresi kekecewaan terhadap kondisi ekonomi saat ini?
Pengamat menilai, respons tersebut bisa menjadi sinyal bagi pemerintah untuk lebih intens menyerap aspirasi buruh, terutama dalam merumuskan kebijakan yang berdampak langsung pada kesejahteraan mereka.
Insiden ini menjadi salah satu momen paling disorot dalam peringatan May Day 2026. Di satu sisi, pemerintah mendorong program jangka panjang seperti MBG, sementara di sisi lain buruh menuntut solusi konkret atas persoalan ekonomi yang mereka hadapi saat ini.
Ke depan, dialog yang lebih terbuka antara pemerintah dan buruh dinilai menjadi kunci agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar tepat sasaran.(*)



