Praktisi Sosial: Langkah KDM Pasca Kecelakaan Kereta Lebih Humanis Dibanding Walikota Bekasi

Redaktur author photo
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyambangi rumah alm Nurlela salah satu korban meninggal kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. Bahkan Dedi Mulyadi mengangkat anak almarhum menjadi anak angkatnya

inijabar.com, Kota Bekasi - Tragedi kecelakaan kereta di kawasan Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam (27/4/2026) bukan hanya menyisakan luka bagi para korban, tetapi juga membuka ruang perbandingan tajam atas respons dua pemimpin daerah: Gubernur Jawa Barat dan Wali Kota Bekasi.

Di tengah kepanikan dan duka yang menyelimuti keluarga korban, langkah cepat ditunjukkan oleh Dedi Mulyadi. 

Gubernur yang akrab disapa KDM (Kang Dedi Mulyadi) itu langsung memastikan seluruh biaya perawatan korban luka ditanggung Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Tak hanya itu, santunan juga diberikan kepada keluarga korban meninggal dunia Rp50 juta sebagai bentuk kehadiran negara di saat genting.

Salah satu langkah yang menyentuh perhatian publik adalah keputusan KDM mengangkat anak dari korban meninggal, Nurlela, seorang guru yang sehari-hari mengajar di kawasan Pulo Gebang, Jakarta. Anak almarhum diangkat sebagai anak angkat. 

Nurlela tewas saat dalam perjalanan pulang menuju rumahnya di Kabupaten Bekasi. Keputusan ini dinilai sebagai bentuk empati yang melampaui pendekatan administratif semata.

Praktisi Sosial Frits Saikat menilai langkah KDM lebih humanis dibanding Wali Kota Bekasi Tri Adhianto.

Frits menyatakan, Tri tidak muncul statmennya terkait langkah humanisnya. Narasi yang muncul lebih banyak berkutat pada rencana infrastruktur jangka panjang seperti pembangunan flyover, yang dinilai tidak menjawab kebutuhan mendesak para korban.

Frits juga menilai perbedaan pendekatan ini mencerminkan cara pandang kepemimpinan dalam situasi krisis.

“Dalam situasi bencana atau kecelakaan, yang paling dibutuhkan adalah kehadiran nyata dan empati. Apa yang dilakukan KDM menunjukkan respons humanis langsung menyentuh kebutuhan korban. Sementara jika fokusnya masih pada proyek, itu bisa dianggap kurang peka terhadap situasi darurat,” ujarnya. Selasa (28/4/2026)

Menurut Frits, publik saat ini semakin kritis dalam menilai kepemimpinan, bukan hanya dari program besar, tetapi dari kecepatan dan ketepatan respons terhadap persoalan kemanusiaan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap angka korban, ada cerita, keluarga, dan masa depan yang berubah dalam sekejap. Di titik inilah, kepemimpinan diuji bukan hanya lewat rencana pembangunan, tetapi melalui keberpihakan nyata kepada mereka yang paling membutuhkan.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini