Mengenal Calon Tunggal Ketua Kadin Kota Bekasi 2026, QRS 'Perenang di Atas Kerikil'

Redaktur author photo
Calon ketua Kadin Kota Bekasi Qadar Ruslan Siregar




MENJELANG Musyawarah Kota (Mukot) 2026 Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Kota Bekasi, satu nama mencuat nyaris tanpa pesaing: Qadar Ruslan Siregar. 

Bagi sebagian orang, ini bukan sekadar kontestasi organisasi. Ini adalah panggung pembuktian seorang lelaki yang terbiasa hidup di tengah tekanan dan justru tumbuh dari situ.

Bang Ruslan, begitu ia akrab disapa, bukan sosok yang lahir dari karpet merah dunia usaha. Ia ditempa dari jalan panjang aktivisme. Dari ruang-ruang diskusi panas, dinamika partai politik, hingga kerasnya realitas lapangan di Kota Bekasi, semua pernah ia cicipi. 

Tak heran jika ada yang menyematkan stigma unik padanya: “di hamparan batu kerikil saja dia bisa berenang.” Sebuah metafora yang menggambarkan daya tahannya menghadapi situasi paling tak bersahabat sekalipun.

Pria asal Medan ini datang bukan dengan janji manis, tapi dengan rekam jejak yang penuh tikungan tajam. Suka dan duka bukan lagi hitungan, melainkan bagian dari napas perjuangannya. Ia jatuh, bangkit, lalu berjalan lagi tanpa banyak bicara soal menyerah.

Transformasi Ruslan dari aktivis menjadi pengusaha bukan proses instan. Itu metamorfosis yang lahir dari kebutuhan bertahan, dari insting membaca peluang, dan dari keberanian mengambil risiko. Dunia usaha yang keras tak membuatnya mundur. Justru di sanalah ia menemukan pijakan baru untuk melangkah lebih jauh.

Di tubuh Kadin Kota Bekasi, perjalanan Ruslan dimulai dari bawah. Bukan langsung di puncak, melainkan sebagai pengurus biasa. Ia meniti satu per satu tangga organisasi, hingga akhirnya dipercaya menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Ketua. Posisi yang tidak datang dengan kenyamanan, melainkan ujian.

Saat dualisme kepemimpinan sempat membelah Kadin Kota Bekasi, Ruslan berada di tengah pusaran konflik. Ia bukan hanya harus mengelola organisasi, tapi juga merawat kepercayaan publik yang nyaris retak. Meyakinkan bahwa kepengurusannya sah, sambil membuka ruang rekonsiliasi, adalah pekerjaan yang menguras energi dan emosi.

Namun di titik itulah karakter Ruslan diuji. Ia memilih jalan penyatuan. Bukan tanpa gesekan, bukan tanpa kompromi yang alot. Tapi hasilnya jelas yakni kesepakatan untuk kembali satu, mengakhiri dualisme yang sempat menjadi bayang-bayang panjang.

Di balik sosoknya yang keras di publik, ada sisi personal yang menjadi bahan bakar semangatnya. Seorang istri yang berprofesi sebagai bidan, serta dua anak yang menjadi alasan mengapa ia tak boleh berhenti di tengah jalan. Keluarga, bagi Ruslan, bukan sekadar latar belakang melainkan fondasi.

Kini, saat ia menjadi satu-satunya kandidat yang mendaftar sebagai calon Ketua Kadin Kota Bekasi 2026, sorotan tertuju padanya. Tanpa rival, justru ekspektasi membesar. Publik tak lagi bertanya siapa lawannya, tapi apa yang akan ia lakukan.

Ruslan tampaknya sudah menyiapkan jawabannya. Sejumlah program inovasi diklaim telah dirancang meski tantangan di depan jelas tidak ringan. Dunia usaha lokal menuntut kepastian, kolaborasi, dan terobosan nyata.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Ruslan akan memimpin. Tapi sejauh mana ia mampu membuktikan bahwa seorang “perenang di atas kerikil” benar-benar bisa membawa Kadin Kota Bekasi melaju di tengah arus deras ekonomi yang kian tak terduga.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini