inijabar.com, Kota Bekasi- Upaya Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Bekasi menggaungkan pesan antikorupsi melalui kanal TikTok resmi @bapendakotabekasiofficial justru memantik senyum sekaligus tanda tanya warganet.
Dalam video kampanye tersebut, sosok Kepala Bapenda Kota Bekasi, Solikhin, tidak ditampilkan secara nyata. Alih-alih muncul langsung, figur pimpinan OPD itu divisualisasikan dalam bentuk karakter kartun, sementara para staf Bapenda lainnya tampil real dan apa adanya.
"Saya Kepala Bapenda Kota Bekasi beserta jajaran menolak korupsi dan gratifikasi dalam bentuk apapun,"ujar si kartun dengan gambaran rambut belah samping.
Perbedaan visual itu sontak mengundang beragam komentar publik. Sebagian warganet menilai video tersebut kreatif dan segar, namun tak sedikit pula yang mempertanyakan konsep yang dinilai “setengah animasi, setengah realita”.
Komentar-komentar positif pun muncul dari akun-akun yang disinyalir milik staf Bapenda sendiri.
Namun kritik berbeda pun muncul baik dikolom komentar maupun obrolan warung kopi.
“Kalau stafnya berani tampil asli, kenapa kepala dinasnya jadi kartun?” ujar Herman (43) warga Kaliabang Bungur Bekasi Utara.
Komentar lain bernada satire bahkan menyebut visual kartun itu membuat pesan antikorupsi terasa seperti dongeng pengantar tidur.
“Antikorupsi versi animasi, realitanya nanti menyusul,” tulis akun lain dengan emoji tawa.
Meski demikian, akun resmi Bapenda Kota Bekasi tampak menanggapi komentar warganet dengan santai. Pada salah satu komentar bernada pujian, admin akun menuliskan balasan singkat, “Mantab.. terima kasih kak.”
Namun di luar pujian, muncul pula spekulasi publik yang berkembang liar mulai dari dugaan konsep kreatif semata, hingga celetukan jenaka soal “malu kamera” atau “kurang percaya diri”.
“Tentu ini hak publik untuk bertanya. Apalagi ini video kampanye antikorupsi, pesan moralnya serius, tapi kemasannya justru mengundang senyum,” ujar seorang pengamat media lokal Andreas.
Menurutnya, kampanye antikorupsi di era digital memang dituntut kreatif, namun tetap perlu konsistensi pesan.
“Kalau yang diajak antikorupsi tampil nyata, sementara simbol pimpinan justru animasi, publik bisa saja membaca pesan ganda,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak Bapenda Kota Bekasi terkait alasan pemilihan visual kartun untuk sosok Kepala Bapenda tersebut.
Di tengah derasnya arus konten media sosial, kampanye antikorupsi Bapenda Kota Bekasi setidaknya berhasil satu hal: menarik perhatian publik. Soal apakah pesan moralnya sampai atau justru tenggelam dalam satire warganet, publik menilai sendiri.(*)




