Pers Terjepit Zaman: Antara Etika, Hujatan, dan Perut yang Harus Tetap Terisi

Redaktur author photo
Ilustrasi

DI era ketika kebenaran diukur dari viral atau tidaknya sebuah unggahan, pers justru diminta berjalan paling pelan. Hati-hati. Berimbang. Beretika. Sementara hujatan datang paling cepat.

Setiap hari, jurnalis berdiri di garis tipis antara idealisme dan realitas. Di satu sisi, mereka dituntut menjaga etika jurnalistik: verifikasi, konfirmasi, cover both sides. Di sisi lain, publik yang terlanjur marah tak mau menunggu. 

Salah judul sedikit, cap “media pesanan” langsung disematkan. Salah sudut pandang, hujatan berjamaah pun tak terelakkan.

Ironisnya, tuntutan moral yang tinggi itu tidak pernah sejalan dengan kesejahteraan.

Banyak jurnalis hari ini bekerja dengan upah yang bahkan tak cukup untuk sekadar hidup layak. Honor per berita yang tak sebanding dengan risiko. Tanpa asuransi. Tanpa kepastian. Namun tetap diminta independen, objektif, dan berintegritas—seolah idealisme bisa membayar kontrakan dan mengisi dapur.

Di ruang redaksi, dilema itu nyata. Menolak berita pesanan berarti kehilangan pemasukan. Menerima berarti menggadaikan marwah profesi. Dalam kondisi serba terjepit, pers dipaksa menjadi malaikat, sementara sistem memperlakukannya seperti buruh kasar.

Lebih menyakitkan lagi, ketika pers berusaha menjalankan fungsinya sebagai kontrol sosial, justru dianggap musuh. Kritik dibalas laporan. Investigasi dijawab intimidasi. Kebenaran dipelintir menjadi kebencian. Pers diminta netral, tapi selalu diseret ke kubu.

Namun di tengah semua itu, masih ada jurnalis yang bertahan. Menulis bukan untuk viral, tapi untuk benar. Bertahan bukan karena sejahtera, tapi karena percaya bahwa publik tetap butuh informasi yang jujur.

Pers hari ini bukan sedang kekurangan etika.

Pers sedang kekurangan perlindungan, penghargaan, dan keberpihakan negara.

Jika pers runtuh, yang hilang bukan sekadar berita.

Yang tumbang adalah akal sehat publik.

Dan mungkin, saat itu kita baru sadar: pers bukan musuh, melainkan korban paling sunyi di era kebebasan yang paradoksal.

#Selamat Hari Pers 2026

Ditulis oleh; Iwan NK- Pemred Inijabar.com

Share:
Komentar

Berita Terkini