![]() |
| Ilustrasi |
TEPAT 10 Maret 2026, Kota Bekasi memasuki usia 29 tahun, dan seharusnya menjadi momentum untuk merayakan identitas kota yang semakin matang.
Namun jika ada satu pertanyaan sederhana diajukan kepada banyak orang, “Apa yang pertama terlintas ketika mendengar Bekasi?”. jawabannya sering kali tidak jauh dari dua hal: sampah dan mal.
Yang pertama adalah TPST Bantargebang, gunungan sampah raksasa yang menjadi tempat pembuangan akhir bagi sebagian besar sampah DKI Jakarta. Yang kedua adalah Summarecon Mall Bekasi, simbol geliat konsumsi dan pertumbuhan kawasan urban baru.
Ikon utama Kota Bekasi adalah julukannya sebagai Kota Patriot dan lambang daerah berupa Bambu Runcing berujung lima yang melambangkan semangat perjuangan. Namun secara popularitas, landmark modern yang ikonik adalah Piramida Terbalik di Summarecon Bekasi
Dua ikon ini seakan menggambarkan dua wajah Bekasi hari ini: kota yang hidup dari aktivitas ekonomi perkotaan, tetapi sekaligus menanggung beban persoalan lingkungan berskala nasional.
Kota yang Tumbuh Cepat
Tidak bisa dipungkiri, dalam 29 tahun terakhir Kota Bekasi mengalami pertumbuhan yang sangat cepat. Kota yang dahulu lebih dikenal sebagai daerah penyangga kini berubah menjadi kawasan urban padat yang dipenuhi apartemen, pusat perbelanjaan, kawasan bisnis, hingga perumahan besar.
Pembangunan infrastruktur transportasi juga membuat Kota Bekasi semakin terhubung dengan wilayah sekitarnya. Mobilitas warga menuju Jakarta semakin mudah, dan Bekasi perlahan berubah menjadi kota komuter sekaligus pusat ekonomi baru di timur metropolitan.
[cut]
![]() |
| Ilustrasi |
Di banyak sudut kota, geliat pembangunan terlihat jelas. Kawasan komersial tumbuh, investasi masuk, dan aktivitas ekonomi semakin ramai. Ini adalah capaian yang tidak bisa diabaikan.
Namun di balik pertumbuhan itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apa sebenarnya identitas kota ini?
Ikon Kota yang Belum Lahir
Banyak kota memiliki simbol yang langsung melekat di ingatan publik. Ketika orang menyebut Bandung, orang teringat kreativitas dan pariwisata. Ketika menyebut Yogyakarta, orang langsung memikirkan budaya dan pendidikan.
Kota Bekasi, meski sudah berusia 29 tahun sebagai kota otonom, tampaknya masih mencari identitasnya sendiri.
Ironisnya, yang paling dikenal justru TPST Bantargebang, tempat pembuangan sampah terbesar yang bahkan bukan sepenuhnya “milik” Kota Bekasi, melainkan fasilitas bagi Jakarta.
Gunungan sampah di Bantargebang bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan citra kota. Selama puluhan tahun, nama Kota Bekasi kerap muncul dalam berita yang berkaitan dengan sampah, bau, dan persoalan pengelolaan limbah metropolitan.
Di sisi lain, ikon yang muncul dari sektor modern justru berupa pusat perbelanjaan seperti Summarecon Mall Bekasi. Mal memang menjadi simbol perkembangan ekonomi, tetapi sulit menjadikannya sebagai identitas kultural sebuah kota.
Akibatnya, Kota Bekasi sering terlihat seperti kota yang tumbuh secara fisik, tetapi belum menemukan narasi tentang siapa dirinya.
Capaian yang Perlu Diakui
Meski begitu, tidak adil jika perjalanan 29 tahun Kota Bekasi hanya dilihat dari sisi kritik.
[cut]
![]() |
| Ilustrasi |
Kota ini berhasil berkembang menjadi pusat hunian bagi jutaan orang yang bekerja di kawasan metropolitan. Infrastruktur jalan, kawasan komersial, dan sektor properti berkembang pesat. Kota Bekasi juga menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi penting di wilayah timur Jabodetabek.
Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa Bekasi memiliki daya tarik besar sebagai kota penyangga metropolitan.
Pekerjaan Rumah yang Masih Panjang
Namun pertumbuhan yang cepat juga membawa konsekuensi besar, kemacetan, banjir, persoalan sampah, hingga ketimpangan tata ruang.
Di banyak wilayah, pembangunan sering terlihat lebih cepat dibandingkan perencanaan kota. Drainase, ruang terbuka hijau, hingga infrastruktur publik kerap tertinggal dari laju pembangunan properti.
Ditambah lagi dengan beban lingkungan dari TPST Bantargebang, Bekasi harus menghadapi persoalan yang tidak dimiliki banyak kota lain.
Mencari Identitas Kota
Di usia ke-29, mungkin pertanyaan paling penting bagi Kota Bekasi bukan lagi sekadar soal pembangunan fisik. Pertanyaan yang lebih besar adalah: apa yang ingin diwakili oleh kota ini?
Apakah Kota Bekasi akan terus dikenal sebagai kota penampung sampah metropolitan? Atau mampu melahirkan identitas baru yang lebih membanggakan?
Sebab sebuah kota bukan hanya soal gedung tinggi, jalan besar, atau pusat perbelanjaan megah. Kota juga membutuhkan simbol, karakter, dan cerita yang membuat orang mengingatnya dengan cara yang positif.
Jika tidak, maka di ulang tahun ke-29 ini, citra Kota Bekasi mungkin masih akan tetap sama di benak banyak orang: gunungan sampah di satu sisi, dan gemerlap mal di sisi lain.(*)






