Pedagang Keluhkan Harga Plastik di Kota Bekasi Meroket

Redaktur author photo
Stok plastik di salah satu toko di Margahayu, Bekasi Timur.

inijabar.com, Kota Bekasi – Sejumlah pedagang dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Bekasi, mulai menjerit akibat lonjakan harga plastik yang tidak terkendali dalam sebulan terakhir. 

Kenaikan tersebut ditengarai sebagai dampak tidak langsung, dari memanasnya eskalasi konflik di Timur Tengah, yang berimbas pada harga bahan baku minyak bumi dunia.

Pantauan di lapangan menunjukkan harga berbagai jenis plastik, mulai dari kantong kresek hingga plastik kiloan, mengalami kenaikan signifikan bahkan mencapai lebih dari 50 persen dari harga normal.

Kondisi tersebut membuat para pedagang eceran maupun pengguna plastik, merasa terhimpit di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.

Roni (50), salah satu pemilik toko plastik di Jalan Mayor Oking, Margahayu, Bekasi Timur, mengungkapkan bahwa tanda-tanda kenaikan harga sudah terasa sejak hampir satu bulan yang lalu. Ia mengaku, mendapatkan peringatan dari penyuplai (supplier) sesaat setelah konflik Iran-Israel memanas.

"Sudah ada sounding dari supplier semenjak perang Iran itu. Mereka bilang jualan hati-hati, harga plastik bakalan tinggi karena bahan dasarnya minyak bumi. Kita pikir awalnya enggak mungkin, eh ternyata panjang," ujar Roni saat ditemui di tokonya, Senin (30/3/2026).

Roni merinci, harga plastik jenis PE yang biasanya digunakan untuk pembungkus kini menyentuh Rp 49.000 hingga Rp 53.000 per kilogram, tergantung merek. Namun, kenaikan yang paling dirasakan masyarakat adalah pada kantong kresek.

"Kantong kresek merek biasa yang tadinya Rp 9.000 sekarang jadi Rp 14.000. Kalau merek yang bagus seperti Tiger itu dulu Rp 12.000, sekarang sudah nyenggol Rp 16.000. Dalam seminggu saja bisa sampai tiga kali naik," keluhnya.

Akibat fluktuasi harga yang sangat cepat, Roni memilih untuk tidak menyetok barang dalam jumlah besar. Ia hanya membeli barang sesuai kebutuhan harian, untuk menghindari kerugian jika sewaktu-waktu harga turun secara bertahap.

"Stres juga jualnya. Kita pusing mau beli lagi modalnya nambah terus. Pembeli juga jadi menahan diri, yang biasanya beli banyak sekarang cuma beli sesuai kebutuhan saja," ungkap Roni.

Kenaikan harga kemasan plastik tersebut berdampak langsung pada pedagang minuman, yang sangat bergantung pada packaging plastik. Soleh (38), seorang pedagang es teh manis di area Bekasi Timur, mengaku sangat terbebani karena plastik merupakan komponen utama dalam usahanya.

Soleh yang menjual es teh seharga Rp 3.000 untuk cup kecil dan Rp 5.000 untuk cup besar, mengaku bingung untuk menaikkan harga jual kepada pelanggan.

"Aduh, pusing saya. Harga plastik naik terus, padahal saya cuma jual es teh harga Rp 3.000 sama Rp 5.000. Kalau saya naikin harganya, nanti pelanggan pada kabur, tapi kalau enggak dinaikin, untungnya habis buat beli plastik sama sedotan doang," kata Soleh dengan nada pasrah.

Ia berharap, pemerintah Kota Bekasi dapat membantu segera turun tangan, untuk menstabilkan harga bahan baku plastik agar beban pedagang kecil tidak semakin berat.

"Harapannya ya harga bisa normal lagi kayak kemarin-kemarin. Biar jualan enak, enggak perlu mikir-mikir lagi tiap mau belanja plastik," pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, harga plastik di pasar-pasar tradisional Kota Bekasi masih terpantau fluktuatif. Para pedagang memperkirakan harga hanya akan kembali stabil secara bertahap, apabila situasi geopolitik global mereda dan harga minyak dunia kembali normal. (Pandu)

Share:
Komentar

Berita Terkini