![]() |
| Adi Bunardi |
Ditulis oleh: Adi Bunardi- Akademisi
BELAKANGAN ini, publik disuguhi pemandangan yang berulang: para penguasa tampil dengan mata berkaca-kaca, suara bergetar, bahkan menangis di depan kamera. Alasannya beragam, mulai dari mengaku sedih melihat penderitaan rakyat hingga berjanji memperjuangkan keadilan. Momen seperti ini kerap menjadi viral dan memancing simpati.
Namun, pertanyaan penting yang layak diajukan adalah: apakah tangisan itu benar-benar lahir dari ketulusan, atau hanya bagian dari strategi komunikasi politik?
Dalam kajian psikologi komunikasi, terdapat konsep impression management atau manipulasi impresi. Seorang pemimpin dapat menggunakan ekspresi emosional untuk membangun citra tertentu di mata publik.
Ketika kebijakan menuai kritik atau kondisi ekonomi memburuk, emosi sering kali menjadi alat yang lebih efektif daripada argumentasi rasional. Air mata kemudian berubah menjadi instrumen untuk meredam kemarahan masyarakat.
Secara sosiologis, fenomena ini dapat dipahami sebagai simulasi realitas. Penguasa tidak selalu harus benar-benar merasakan penderitaan rakyat, tetapi cukup menampilkan kesan seolah ikut menderita. Yang dipertontonkan bukan lagi empati, melainkan citra empati.
Publik akhirnya lebih sibuk mengomentari ekspresi wajah daripada mengevaluasi kebijakan yang dihasilkan.
Dalam perspektif Islam, air mata memiliki kemuliaan ketika lahir dari ketakwaan kepada Allah SWT dan kepedulian yang tulus terhadap sesama. Rasulullah SAW menangis bukan untuk mencari simpati, melainkan karena kasih sayang yang kemudian diwujudkan dalam tindakan nyata berupa perlindungan, keadilan, dan pembelaan terhadap kaum lemah.
Karena itu, ukuran kepemimpinan tidak boleh berhenti pada ekspresi emosional. Tangisan yang tulus akan melahirkan perubahan nyata, sedangkan tangisan yang sekadar menjadi bagian dari pencitraan hanya menghasilkan keuntungan politik.
Di era media sosial, masyarakat dituntut menjadi publik yang kritis. Jangan mudah terpesona oleh adegan yang menguras emosi. Nilailah seorang pemimpin bukan dari banyaknya air mata yang menetes, tetapi dari keberanian menghadirkan kebijakan yang adil, melindungi rakyat, dan menyejahterakan masyarakat.
Pada akhirnya, rakyat perlu bertanya setiap kali melihat penguasa menangis: apakah setelah air mata itu mengalir, kehidupan masyarakat menjadi lebih baik? Ataukah justru di balik tetesan air mata tersebut, masih ada ribuan rakyat yang diam-diam menangis karena kehilangan pekerjaan, kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, atau merasa keadilan semakin jauh dari jangkauan?
Sebab sejarah selalu mengajarkan satu hal: air mata dapat menyentuh hati, tetapi hanya keadilan yang mampu mengubah kehidupan.



