![]() |
| Para pedagang Pasar Cisalak masih terlihat menggelar dagangannya |
inijabar.com, Depok- Pasca penertiban lapak pedagang di kawasan Pasar Cisalak, Kota Depok sejumlah pedagang terpaksa memilih strategi "Kucing-Kucingan" dengan petugas demi mempertahankan konsumen pelanggan dan menjaga kelangsungan usaha di tengah kemerosotan omzet.
Di sisi lain, pihak pengelola menegaskan bahwa tindakan tegas ini diambil untuk mengembalikan fungsi fasilitas umum, mengamankan aset daerah, serta menata tata ruang Pasar Cisalak.
Diungkapkan Dadan Kurniawan, salah seorang pedagang sayur Pasar Cisalak yang terdampak penertiban. Dia mengaku relokasi yang ditawarkan pengelola belum sepenuhnya menjadi solusi ideal.
Meski sudah mendaftar, namun dirinya masih mengeluhkan terkait posisi lapak baru di pojok gedung bawah pasar yang sepi pengunjung dan kurang aksesibel, terutama bagi konsumen lansia.
"Untuk sementara saya masih bertahan di luar ya, biar kata harus kucing-kucingan. Niatnya mau kasih tahu langganan dulu, nanti baru kita pindah ke mana, biar mereka tidak keder mencarinya," ujar Dadan kepada awak media saat ditemui di lapaknya di Pasar Cisalak, Kota Depok, Selasa (11/8/2026).
Guna mengantisipasi penertiban mendadak, Dadan mengaku sengaja memangkas jumlah produk barang dagangannya hingga separuh agar mudah dirapikan saat petugas melintas.
Namun, dengan ketidakpastian lokasi dagang ini berdampak terhadap pendapatan omzet harian. Dadan mengaku omsetnya anjlok hingga 50 persen, yang biasanya mencapai Rp3 juta kini merosot ke kisaran Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per hari.
Sementara itu menanggapi keluhan tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala UPTD Pasar Cisalak, Diana Puspitasari menjelaskan bahwa penertiban ini fokus pada bangunan liar yang menutupi akses jalan dan berdiri di atas saluran air.
Langkah terpadu yang melibatkan lintas OPD ini ditujukan demi keamanan, kerapian, serta kemudahan akses armada pemadam kebakaran saat kondisi darurat.
"Kita bicara pengamanan aset dan penataan secara keseluruhan agar akses masuk mudah. Pedagang yang sebelumnya berada di luar juga langsung kita arahkan untuk mendaftar dan masuk ke dalam area pasar yang telah disediakan," kata Diana saat dikonfirmasi kepada awak media, Senin (10/8/2026).
Pengelola memaparkan bahwa dari total kapasitas 1.300 unit kios dan los Pasar Cisalak, saat ini baru terisi sekitar 600 unit. Kini pihak UPTD tengah mendata lebih dari 100 pedagang baru untuk ditempatkan sesuai zonasi komoditas, seperti zona basah di basement dan lantai 1, serta komoditas kering di lantai atas.
“Saat ini baru ada sekitar 100 lapak pedagang yang sudah mendaftar mau direlokasi ke dalam pasar ya mas. Kita masih mendata dahulu, masih mendata baru setelah itu bisa kita lakukan langkah selanjutnya menentukan zonasi menurut jenis daganganannya dan sebagainya,” kata Diana.
Langkah optimalisasi fasilitas resmi ini juga ditargetkan mampu mendongkrak pencapaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor retribusi Pasar Cisalak yang dipatok sebesar Rp6 miliar per tahun, meski saat ini baru hanya merealisasikan angka 60 persen.
Di tengah perbedaan sudut pandang ini, para pedagang berharap pihak pengelola tidak hanya berfokus pada penertiban. Tetapi juga membenahi tata kelola infrastruktur dan aksesibilitas gedung, agar tercipta iklim usaha yang nyaman bagi pedagang maupun pembeli. (Risky)



