![]() |
| Wakil Direktur Pelayanan Medik RSUD CAM Kota Bekasi, dr. Sudirman. |
inijabar.com, Kota Bekasi - Jumlah penderita gagal ginjal yang membutuhkan layanan hemodialisis (cuci darah), di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Chasbullah Abdulmadjid (CAM) Kota Bekasi, terus mengalami peningkatan tiap tahunnya.
Bahkan, fasilitas kesehatan milik pemerintah daerah ini, melayani hampir 300 pasien per minggu dengan pengoperasian unit mesin yang hampir menyentuh kapasitas maksimal.
Wakil Direktur Pelayanan Medik RSUD CAM Kota Bekasi, dr. Sudirman, mengungkapkan bahwa layanan cuci darah di RSUD saat ini, harus dibagi ke dalam tiga tenggat waktu (shift), guna menampung lonjakan pasien.
"Setiap hari kita melayani sekitar 40 pasien di shift pagi dan 40 pasien di shift siang. Ditambah shift malam untuk pasien rawat inap yang kini melonjak hingga 20 pasien. Jika ditotal, dalam satu hari ada sekitar 95 pasien yang menjalani cuci darah," ujar dr. Sudirman saat ditemui di kantornya, Jumat (9/10/2026).
dr. Sudirman menjelaskan, meski mayoritas penderita berada pada rentang usia 40 hingga 60 tahun, saat ini tren kasus gagal ginjal juga mulai mengintai kelompok usia muda.
Menurutnya, penyebab utamanya tak lepas dari komplikasi penyakit tidak menular (PTM) yang tidak terkontrol dengan baik, seperti diabetes melitus, hipertensi, hingga pembentukan batu ginjal.
"Penyebab utamanya adalah diabetes yang tidak terdeteksi atau tidak terkontrol. Kadar gula darah yang tinggi secara terus-menerus berdampak pada kerusakan fungsi ginjal. Selain itu, konsumsi minuman manis yang berlebihan serta kebiasaan kurang minum air putih juga berisiko memicu batu ginjal," jelasnya.
Terkait ketersediaan fasilitas, RSUD CAM Kota Bekasi saat ini menyiagakan 42 unit mesin cuci darah, yang bekerja sama dengan mitra KSO. Meski ketersediaan bahan medis dan sistem filter air dipastikan aman, pihak rumah sakit terkendala keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM), untuk memaksimalkan shift malam akibat adanya moratorium penambahan pegawai.
Mengenai alternatif pengobatan mandiri melalui Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) atau cuci darah lewat rongga perut, dr. Sudirman mengakui metode tersebut belum menjadi pilihan populer di kalangan warga karena dinilai kurang praktis.
Di sisi lain, dr. Sudirman menyayangkan masih banyaknya pasien baru yang datang ke rumah sakit dalam kondisi gawat darurat, akibat mengabaikan gejala awal dan komplikasi penyakit penyerta.
Ia menekankan, pentingnya kesadaran masyarakat untuk mendeteksi gangguan fungsi ginjal secara dini melalui pemeriksaan kesehatan berkala, pengontrolan konsumsi gula serta tekanan darah, hingga menjaga asupan air putih harian secara disiplin.
"Penyakit ginjal pada tahap awal sering kali tidak bergejala. Oleh karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat, mencukupi kebutuhan air putih minimal dua liter sehari, serta rutin melakukan medical check-up (MCU) maupun memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dari pemerintah. Jangan tunggu sampai kondisi kritis baru datang ke rumah sakit," pungkasnya. (Pandu)




