![]() |
| BPBD Kota Bekasi saat memberikan instruksi pada peserta kesiapsiagaan bencana di Apartemen Grand Center Points |
inijabar.com, Kota Bekasi - Indonesia sebagai wilayah Zona Megathrust, kerap menghadapi ancaman gempa bumi yang dapat terjadi sewaktu-waktu dengan kekuatan beragam. Kondisi tersebut mendorong pengelola hunian vertikal, untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam.
Merespons hal tersebut, Ketua Forum Komunikasi Rumah Susun sekaligus Penanggung Jawab Kegiatan Mitigasi Bencana PPPSRS (Persatuan Penghuni dan Pemilik Satuan Rumah Susun) Grand Center Point (GCP) Kota Bekasi, Aji Alisabana menginisiasi pelatihan dan simulasi tanggap bencana khusus penghuni rusun, yang berlangsung selama dua hari, 13-14 September 2025, melibatkan berbagai pihak terkait.
"Kita perlu pahami bersama hunian vertikal seperti rusun, apartemen, dan hotel merupakan kategori gedung berisiko tinggi," ujarnya. Minggu (14/9/2025).
Aji menjelaskan, berdasarkan data BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) dan PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Indonesia memiliki potensi gempa bumi yang dapat melepaskan energi signifikan.
"Sampai saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi gempa bumi dengan tepat dan akurat, dari kapan, dimana dan berapa kekuatannya," paparnya.
Program yang diselenggarakan bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi dan Forum Komunikasi Rumah Susun Korwil Jawa Barat itu, melibatkan manajemen, security, cleaning service, teknisi, pengurus dan warga rusun Grand Center Point.
"Diharapkan kegiatan yang pertama kali diinisiasi PPPSRS Grand Center Point ini bisa diserap ilmunya dengan baik, baik teori maupun praktek yang telah diberikan narasumber bersertifikat tanggap bencana tim BPBD Kota Bekasi," kata Aji.
Selain itu, Aji turut mengajak seluruh pengelola gedung berisiko tinggi di Kota Bekasi, untuk mencontoh inisiatif tersebut dan siap bekerjasama dengan pengelola gedung lainnya, untuk memperluas program serupa.
"Saya mengajak semua pengurus PPPSRS dan pengelola gedung berisiko tinggi khususnya di Kota Bekasi, mari sama-sama melakukan gerakan mitigasi warga tanggap bencana khususnya di rusun," ajaknya.
Sementara itu, Aditya dari BPBD Kota Bekasi menegaskan, pentingnya pelatihan yang digelar untuk penghuni bangunan vertikal, sebagai peminimalisir risiko saat terjadi bencana.
"Pelatihan ini ditujukan bagi penghuni bangunan vertikal seperti apartemen, kantor, dan pusat perbelanjaan untuk mengurangi risiko saat gempa," jelas Aditya.
Menurutnya, bangunan tinggi memiliki risiko paling besar saat terjadi gempa bumi. Aditya menyampaikan, selain pelatihan tanggap bencana, masyarakat juga harus memastikan ketahanan bangunannya apakah memadai dalam menahan gempa.
"Bangunan tinggi paling berisiko, oleh karena itu masyarakat harus memastikan bangunannya tahan gempa," pungkas Aditya.
Langkah proaktif ini menjadi penting, mengingat berbagai kejadian gempa bumi di Indonesia maupun negara lain, yang mengakibatkan kerusakan dan korban jiwa tidak sedikit. Dengan adanya edukasi dan simulasi tanggap bencana, diharapkan dapat mengurangi risiko dan dampak bencana di masa mendatang. (Pandu)




