Jelang Musda PAN Kota Bekasi, Ketika Yang Lain Sunyi Alex Paham Bahwa Politik Butuh Penonton

Redaktur author photo


Calon Ketua PAN Kota Bekasi Lukman Hakim 

DI Kota Bekasi, di mana suhu politik bisa berubah lebih cepat daripada lampu merah Galaxy menjadi hijau, Lukman Hakim atau akrab disapa Alex Ziblo, satu nama tiba-tiba mencuri perhatian jelang Musda PAN Kota Bekasi 2025.

Bukan karena baliho raksasa. Bukan karena video sinematik ala calon kepala daerah. Tapi karena satu hal sederhana yang sudah langka di PAN, berani unjuk gigi di ruang publik.

Dalam iklim partai yang semakin tersentralisasi di mana keputusan kadang turun dari pusat seperti wahyu, Lukman mendadak tampil sebagai fenomena. 

Bagai gladiator masuk arena, ia justru memilih mengumpulkan massa, memamerkan otot politik, dan menunjukkan bahwa demokrasi internal tidak harus selalu sunyi seperti chat grup yang sepi balasan.

Panggung Konsolidasi: Ketika Massa Muncul Lebih Cepat Dari Keputusan DPP

Setiap kali Lukman hadir di acara konsolidasi, aroma kompetisi yang semula dingin tiba-tiba menghangat. Ratusan simpatisan ikut datang, seolah ini sudah Musda, padahal panitia pun belum memasang tenda agar para calon formatur lain tidak kepanasan.

Kader-kader sampai bertanya-tanya, “Ini acara PAN atau acara konser dadakan?”

Sementara di sisi lain, beberapa bakal calon lain memilih strategi anti-mainstream, diam total. Sangat misterius, sangat sunyi, sangat sejalan dengan arah angin pusat. Saking senyapnya, ada yang bercanda bahwa kalau bukan karena namanya numpang lewat di daftar rumor, mungkin mereka dianggap belum terdaftar sebagai kader.

Pakar Komunikasi Efendy Gazali pun turun memberi ilustrasi bahwa yang dilakukan Lukman Hakim resiko tidak terpilih nya tinggi karena sistem sentralistik. Namun seolah itu tidak penting bagi Lukman Hakim. Terpenting bagi dia PAN Kota Bekasi diuntungkan dengan 'keriyaan politik' ala Lukman Hakim.

Melawan Tradisi ‘Tentukan di Pusat’, Lukman Datang Dengan Tradisi ‘Tunjukkan Dulu Massa’

PAN dikenal dengan sistem formatur yang artinya, siapa ketua DPD, pada akhirnya sangat ditentukan restu pusat. Maka tampil ke publik kadang dianggap percuma, seperti latihan pidato tanpa penonton.

Tapi pria yang akrab disapa.Alex Ziblo ini punya logika lain, 'Kalau pusat suka yang rapi, saya justru kasih ramai.'

Ada juga yang bilang ini taktik unik, menyuarakan desentralisasi dengan cara paling terpusat: kerahkan massa.

Drama Politik Biru yang Mulai Terasa Seperti Sitkom

Dalam beberapa pertemuan internal, pendukung Lukman mengklaim bahwa langkah ini justru memberi warna. Setidaknya, Musda nanti punya cerita, tidak hanya 'dibuka, ditetapkan, ditutup'.

Salah satu kader senior bahkan berujar sambil tersenyum,

“Di PAN Bekasi mah, kalau ada yang berani ramai-ramai begini, minimal kita punya alasan buat ngopi sambil bahas politik lagi.”

Di tengah politik yang kadang kaku, kemunculan Lukman ini seperti adegan dalam sitkom, penuh gestur, penuh kejutan, tapi tetap relevan dengan plot besar partai.

Menuju Musda: Drama Baru atau Babak Baru?

Musda PAN Kota Bekasi 2025 belum dimulai, tapi atmosfernya sudah seperti episode pilot.

Ada tokoh utama yang menonjol, ada figur pendukung yang misterius, dan ada pusat yang sewaktu-waktu bisa men-drop twist terbaru.

Yang jelas, satu hal sudah terbukti, Lukman Hakim menjadi satu-satunya bakal calon yang berani menunjukkan bahwa demokrasi internal masih bisa hidup, meski kadang jalannya zig-zag.

Sisanya? Kita tunggu saja apakah Musda nanti jadi drama politik serius, atau justru berubah menjadi komedi strategi versi PAN Bekasi.

Ditulis; Tim Redaksi

Share:
Komentar

Berita Terkini