![]() |
| Ilustrasi |
DI banyak tempat, politik itu identik dengan strategi, survei, dan logistik. Tapi di Indonesia terlebih di level lokal, politik punya satu dimensi ekstra yang jarang diakui tapi semua tahu: klenik adalah “divisi rahasia” dalam setiap pertarungan kekuasaan.
Pengakuan Ki Mamat seorang tokoh spiritual di Bekasi sebagai pemilik 'Batu Pusaka' bukan hal baru bukan juga secepat air bandang yang meratakan 3 provinsi.
"Itu mah udah biasa orang mau punya hajat memimpin,"bisik burung emprit yang tak mau terbang meski dipukul sapu ijuk.
Kalau konsultan politik kerja pakai Excel dan big data, maka para 'konsultan gaib' kerja pakai asap dupa dan bisikan leluhur.
Dan ajaibnya dua-duanya sama-sama dibayar.
Benda Pusaka Senjata Pamungkas Sebelum Bertarung di TPS
Sebelum baliho dipasang atau timses dikerahkan, beberapa kandidat biasanya memastikan satu hal benda pusaka sudah diisi energinya.
Ada yang mempercayai benda pusaka seperti batu, keris dan lainnya, untuk menaikkan kharisma, membuat lawan grogi saat debat publik, atau sekadar bikin tangan lebih percaya diri saat salaman dengan warga.
Di beberapa daerah, benda pusaka bahkan ikut 'turun gelanggang' dalam rapat tim pemenangan disimpan di tas tim inti, seperti powerbank yang membawa keberuntungan.
Batu Pusaka: Aksesoris? Tidak. Ini 'Booster Elektabilitas'
Jika survei tidak naik, biasanya ada ritual khusus, cuci energi batu pusaka. Batu pusaka dipercaya mampu mengunci loyalitas relawan, menetralkan serangan politik, memperkuat 'aura cerah' saat kampanye, bahkan menenangkan kandidat ketika diserang buzzer lawan.
Beberapa politisi menyimpannya di saku, sebagian lagi diikat di pinggang, dan yang paling ekstrim menaruhnya di bawah podium sebelum pidato.
Pertarungan Politik: 50% Strategi, 50% Spiritual Advisor
Di balik layar, struktur pemenangan biasanya terdiri dari Ketua tim, Divisi logistik, Divisi data, Divisi saksi, Dan satu divisi paling misterius: Divisi Supranatural
Divisi ini bertugas membaca 'cuaca politik'—bukan analisa media, tapi melihat pergerakan halus dari “energi lawan dan arah angin gaib”.
Kadang, keputusan politik besar diambil bukan berdasarkan polling, tapi "hasil tirakat'.
Ritual Wajib Menjelang Hari Pencoblosan
Menjelang H-1, biasanya ada paket lengkap seperti mandi kembang tujuh rupa, doa khusus di titik tertentu, pembakaran kemenyan untuk 'membuka jalan kemenangan', hingga tradisi menanam benda pusaka di halaman rumah
Di satu sisi, tim pemenangan sibuk input C1 di sisi lain, tim spiritual sedang 'mengunci kemenangan agar tidak dicuri lawan'.
Di Balik Seriusnya Politik, Klenik Jadi Hiburan yang Tak Pernah Mati
Fenomena ini memang tidak pernah tercatat dalam UU Pemilu ataupun PKPU.
Tidak ada Bab 'Klenik Politik' atau Pasal “Penggunaan Batu Pusaka pada Masa Kampanye”. Namun, realitas di lapangan berkata lain.
Politik lokal selalu punya ruang untuk hal-hal gaib. Kadang lucu, kadang mistis, tapi selalu jadi cerita menarik di balik sengitnya pertarungan elektoral. Karena pada akhirnya, bagi sebagian politisi akan melakukan langkah alternatif.
Jika strategi gagal, survei turun, relawan pecah, dan isu menerpa…maka tinggal satu pegangan terakhir, yakni, 'Semoga batu pusaka masih menyala'.
Editorial Redaksi




