Meski Diguyur Hujan, Kompetisi Futsal Antar SD se-Jatiasih Tetap Meriah

Redaktur author photo
Kepsek SDN V Jatirasa Daiman di sela-sela menyaksikan pertandingan futsal antar SD se Kecamatan Jatiasih

inijabar.com, Kota Bekasi- SDN Jatirasa V menggelar kompetisi futsal Anak Bangsa antar Sekolah Dasar (SD) se-Kecamatan Jatiasih sebagai upaya menjaring bakat olahraga sejak usia dini sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sarana sekolah pascabanjir. 

Kompetisi ini diikuti 12 sekolah dan menjadi turnamen futsal pertama yang diselenggarakan di SDN Jatirasa V.

Kepala SDN Jatirasa V, Daiman, mengatakan, jumlah peserta sejatinya ditargetkan lebih banyak. Namun kondisi cuaca menjadi kendala utama.

“Awalnya kami ingin lebih banyak sekolah ikut. Tapi karena musim hujan, yang mendaftar hanya 12 SD se-Kecamatan Jatiasih,” ucapnya. Rabu (21/1/2026).

Ia mengatakan, kompetisi futsal ini tidak hanya berorientasi pada pertandingan, tetapi juga mengandung nilai pendidikan yang selaras dengan kurikulum.

“Tujuan utama kegiatan ini ada nilai pendidikannya. Futsal ini bagian dari pendidikan jasmani. Sekarang ini cukup sulit mengadakan kegiatan olahraga anak-anak karena keterbatasan lahan,” jelasnya.

Menurut Damian, keberadaan lapangan SDN Jatirasa V yang telah dicor menjadi peluang besar untuk menghadirkan ruang olahraga yang layak bagi siswa.

“Alhamdulillah, setelah lapangan dicor, kami bersama guru dan komite sekolah berinisiatif memanfaatkannya. Dari situ lahirlah kegiatan Liga Futsal Anak Bangsa antar SD se-Kecamatan Jatiasih,” katanya.

Lebih lanjut, Damian menjelaskan bahwa kompetisi ini juga diarahkan sebagai sarana penjaringan dan pembinaan atlet berbakat secara berkelanjutan.

“Anak-anak yang terlihat memiliki bakat dan potensi olahraga akan kami pantau dan bina secara khusus. Nantinya mereka bisa difokuskan dalam satu tim inti untuk dipersiapkan mengikuti kejuaraan di tingkat kota,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pembinaan tersebut diharapkan dapat berkesinambungan hingga jenjang pendidikan berikutnya.

“Kalau pembinaannya konsisten, bisa berlanjut sampai SMP. Harapannya mereka benar-benar menjadi siswa yang berprestasi di bidang olahraga,” tegas Damian.

Sebagai bentuk pengakuan formal, panitia menyediakan piala dan sertifikat bagi para peserta.

“Kami memberikan sertifikat bahwa kegiatan ini menunjang pendidikan, khususnya di bidang olahraga yang memang menjadi bagian dari kurikulum pendidikan,” jelasnya.

Damian juga menyampaikan bahwa fasilitas lapangan sekolah dapat dimanfaatkan masyarakat dengan prinsip tanggung jawab bersama.

“Lapangan ini tidak disewakan. Masyarakat boleh menggunakan, dengan catatan tetap menjaga kebersihan,” katanya.

Terkait pendanaan, Damian menegaskan bahwa seluruh kegiatan dilaksanakan secara mandiri tanpa dukungan dari instansi pemerintah.

“Tidak ada bantuan dari Dinas Pendidikan, tidak ada dari dewan maupun Komisi IV. Kegiatan ini murni inisiatif komite sekolah,” tegasnya.

Meski demikian, pihak sekolah mendapat dukungan dari sektor swasta.

“Kami mendapat bantuan dari PT Tugu Insurance Jakarta. Kami mengajukan proposal dan alhamdulillah direspons dengan bantuan sekitar Rp10 juta,” ungkap Damian.

Ia mengakui, proposal kegiatan belum pernah diajukan ke Dinas Pendidikan maupun DPRD karena perhatian pemerintah masih terfokus pada penanganan banjir di wilayah tersebut.

“Kawasan kami ini urgensinya banjir. Sudah diverifikasi dinas, tapi sampai hari ini realisasinya nol. Karena lapangan sudah ada, ya kami manfaatkan sendiri,” katanya.

Menurut Damian, penyelenggaraan kompetisi futsal ini merupakan bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap sarana dan prasarana yang telah dibangun.

“Ini bentuk tanggung jawab kami setelah memiliki sarana. Anak-anak jadi lebih semangat belajar dan orang tua siswa juga sangat mendukung,” ujarnya.

Ia berharap fasilitas olahraga di sekolah dapat terus dikembangkan ke depannya.

“Kalau ke depan bisa dibangun tembok pembatas, tentu fasilitasnya akan jauh lebih maksimal,” katanya.

Kompetisi futsal ini menjadi turnamen pertama yang digelar di SDN Jatirasa V. Damian menyebut ide awal kegiatan muncul dari keinginan menghapus stigma negatif terhadap sekolahnya pascabanjir.

“Setelah pascabanjir, SDN Jatirasa V seolah dipandang sebelah mata. Kami ingin menunjukkan bahwa sekolah kami juga mampu menyelenggarakan kegiatan seperti sekolah-sekolah lain,” tegasnya.

Ia menambahkan, minimnya sarana olahraga di wilayah Jatiasih membuat keberadaan lapangan SDN Jatirasa V sangat strategis.

“Banyak sekolah di Jatiasih yang sarana olahraganya minim. Lapangan kami cukup luas dan bisa dikembangkan untuk futsal, voli, basket, bulu tangkis, dan olahraga lainnya. Mudah-mudahan ke depan bisa dikolaborasikan,” tutup Damian.

Share:
Komentar

Berita Terkini