7 Mitos Turun-Temurun yang Masih Dipercaya Saat Imlek, Nomor 5 Bikin Kaget

Redaktur author photo
Ilustrasi perayaan Imlek

inijabar.com, Kota Bandung- Tahun Baru Imlek bukan sekadar perayaan pergantian kalender lunar. Bagi sebagian masyarakat Tionghoa, momen ini sarat makna, doa, dan harapan akan keberuntungan di tahun yang baru. Di balik gemerlap lampion merah dan meriahnya barongsai, tersimpan sejumlah mitos yang dipercaya turun-temurun.

Sebagian orang menganggapnya hanya tradisi. Namun, tak sedikit pula yang masih memegang teguh pantangan dan anjuran ini demi menjaga “hoki” sepanjang tahun.

Berikut beberapa mitos yang masih hidup saat perayaan Imlek:

1. Dilarang Menyapu di Hari Pertama

Banyak keluarga menghindari menyapu atau membersihkan rumah tepat di hari pertama Imlek. Konon, aktivitas ini dipercaya bisa “menyapu” rezeki dan keberuntungan yang baru saja datang.

Karena itu, tradisi bersih-bersih justru dilakukan sebelum malam pergantian tahun, sebagai simbol membuang kesialan lama dan menyambut energi baru.

2. Jangan Keramas atau Potong Rambut

Mitos lain menyebutkan bahwa mencuci rambut saat Imlek bisa menghilangkan keberuntungan. Dalam bahasa Mandarin, kata “rambut” memiliki bunyi yang mirip dengan kata “kemakmuran”, sehingga dianggap tabu untuk “membersihkannya” di awal tahun.

Potong rambut pun dihindari karena dipercaya dapat memotong rezeki atau nasib baik.

3. Hindari Mengucapkan Kata-Kata Negatif

Saat Tahun Baru Imlek, masyarakat dianjurkan mengucapkan kata-kata baik dan penuh doa. Mengeluh, berkata kasar, atau membicarakan hal buruk dipercaya bisa mendatangkan energi negatif sepanjang tahun.

Karena itu, ucapan seperti “Gong Xi Fa Cai” bukan sekadar formalitas, melainkan simbol doa dan harapan kemakmuran.

4. Angka dan Warna Punya Arti Khusus

Angka 8 dianggap membawa keberuntungan karena pelafalannya mirip dengan kata “makmur” dalam bahasa Mandarin. Sebaliknya, angka 4 sering dihindari karena bunyinya menyerupai kata “mati”.

Warna merah mendominasi perayaan karena melambangkan keberanian, kebahagiaan, dan penolak bala. Itulah sebabnya angpao dan dekorasi identik dengan warna merah menyala.

5. Pecah Piring? Ucapkan Kata Ini!

Jika tanpa sengaja memecahkan piring atau gelas saat Imlek, jangan panik. Ada kepercayaan bahwa segera mengucapkan kalimat bermakna “damai dan selamat” bisa menangkal kesialan.

Benda pecah memang dianggap pertanda kurang baik, tetapi diyakini bisa “dinetralkan” dengan ucapan positif.

6. Tidak Boleh Menangis

Anak-anak yang menangis saat Imlek sering diingatkan untuk berhenti. Konon, tangisan di hari pertama bisa menjadi pertanda kesedihan sepanjang tahun. Karena itu, suasana diupayakan tetap riang dan penuh tawa.

7. Hutang Harus Dilunasi Sebelum Imlek

Menyisakan hutang hingga masuk tahun baru dipercaya bisa membuat seseorang terus-terusan dililit masalah finansial. Maka, banyak orang berusaha menyelesaikan kewajiban sebelum malam pergantian tahun.

Meski tak semua orang mempercayainya secara harfiah, mitos-mitos ini menjadi bagian dari kekayaan budaya yang memperkaya perayaan Imlek. Ia bukan sekadar soal percaya atau tidak, melainkan simbol harapan, optimisme, dan semangat memulai lembaran baru.

Di era modern, sebagian generasi muda mulai memaknai tradisi ini secara lebih fleksibel. Namun satu hal yang tetap sama: Imlek adalah momentum berkumpul, berbagi, dan menebar doa terbaik untuk masa depan.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini