![]() |
| Satrio Adi Chandra penggiat Breeder paruh bengkok |
inijabar.com, Jakarta Utara – Berawal dari hobi yang dijalani secara iseng, Satrio Adi Chandra kini dikenal sebagai breeder paruh bengkok yang konsisten mengembangkan ternak secara serius dan berkelanjutan. Kecintaan terhadap dunia burung mengantarkannya menjadikan hobi sebagai peluang usaha bernilai ekonomi.
Satrio menuturkan, ketertarikannya pada dunia ternak burung bermula dari lovebird yang telah digelutinya sejak 2010. Saat itu, aktivitas beternak masih sebatas mengikuti tren dan mengisi waktu luang.
“Awalnya cuma iseng ikut-ikutan. Tapi kok bisa ngasilin, ada tambahan buat beli pakan, jadi enggak ngeluarin dari duit pribadi,” ujarnya.
Namun, seiring waktu, harga lovebird mengalami penurunan dan membuat minat pasar tidak lagi stabil. Kondisi tersebut mendorong Satrio untuk mengalihkan fokus dan mulai beralih ke dunia paruh bengkok yang dinilainya memiliki prospek lebih menjanjikan.
“Ketika harga lovebird turun, kita sudah enggak semangat. Akhirnya beralih ke paruh bengkok yang medium dan lebih stabil,” ujar Satrio Minggu ( 1/2/2026 )
![]() |
| Pembiakan burung paruh bengkok |
Pada fase awal pengembangan paruh bengkok, Satrio memulai dari beberapa jenis seperti cenggon, sebelum akhirnya mengembangkan jenis lainnya, termasuk bebek. Saat itu, penentuan jenis kelamin indukan masih mengandalkan pengalaman lapangan karena layanan DNA sexing belum tersedia.
“Dulu belum ada DNA sexing, jadi masih gambling jantan dan betina. Tapi karena ada basic ngenalin ciri fisik, alhamdulillah berhasil ternak,” ungkapnya.
Menurutnya, keberhasilan tersebut turut didukung oleh tingginya minat pasar terhadap paruh bengkok, sehingga usaha breeding terus dikembangkan hingga sekarang.
Saat ini, Satrio memiliki lebih dari sepuluh pasang indukan aktif. Dalam satu kali panen, dari satu indukan dapat menghasilkan minimal tiga hingga empat ekor anakan, dengan jumlah maksimal mencapai 20 ekor.
“Sekali panen bisa 12 sampai 20 ekor, maksimal 20. Tapi waktunya enggak bisa diprediksi,” katanya.
Ia menjelaskan, proses penetasan dilakukan menggunakan sistem inkubator dengan siklus rata-rata tiga bulan sekali. Namun dalam kondisi tertentu, panen dapat terjadi lebih cepat.
“Kalau lagi rezeki, kadang dua bulan sudah bertelur lagi,” tambahnya.
Dari sisi ekonomi, hasil breeding paruh bengkok yang dikelolanya mampu menghasilkan omzet puluhan juta rupiah dalam satu kali panen, meskipun penjualan tidak dilakukan secara sekaligus.
“Kalau dihitung, sekali panen bisa sekitar 30 juta. Itu hitungannya sekali panen, bukan per bulan,” terangnya.
Meski bernilai ekonomi, Satrio menegaskan bahwa orientasi utamanya tetap hobi. Menurutnya, kecintaan terhadap burung menjadi kunci utama keberhasilan dalam dunia breeding.
“Yang penting itu hobi dulu. Banyak orang punya uang tapi enggak hobi, akhirnya kasian burungnya,” tegasnya.
Ia menilai, breeder yang berangkat dari hobi akan lebih tekun belajar dan merawat ternak secara maksimal, sehingga hasilnya pun lebih optimal.
“Kalau hobi, pasti dirawat semaksimal mungkin dan ujungnya ngasilin,” ucapnya.
Selama menekuni breeding paruh bengkok, Satrio mengaku jarang menghadapi kendala penyakit serius. Masalah yang muncul umumnya bersifat teknis.
“Jarang sakit. Paling agak kurus karena buburnya kurang kental atau faktor kecelakaan kecil. Penyakit bawaan yang sampai mati itu jarang,” pungkasnya.
Bagi penghobi atau masyarakat yang tertarik membeli paruh bengkok hasil ternak langsung dari breeder, Satrio membuka penjualan secara langsung maupun daring. Pembeli dapat datang langsung ke lokasi ternak di Komplek Tugu Permai Blok A1, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Semper Utara, atau melakukan pemesanan melalui media sosial.
Penjualan juga dilayani melalui Facebook: Satrio Adi Chandra Budiman, serta dapat menghubungi WhatsApp 0897-9160-621 untuk informasi stok dan harga.





