![]() |
| Pedagang Koran Rusmansyah |
PAGI di Jatiasih tak lagi seramai dulu oleh suara lembaran kertas dibuka tergesa. Kini, yang lebih sering terdengar adalah bunyi notifikasi dari telepon genggam. Namun di sela perubahan zaman itu, satu rutinitas tetap berjalan pelan tapi pasti: Rusmansyah (53) masih berkeliling menjajakan koran.
Warga Komsen, Kelurahan Jatiasih, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi ini telah memulai usahanya sejak 1988. Tiga puluh delapan tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuah pekerjaan yang pelan-pelan ditinggalkan zaman.
“Dari tahun 1988. Enggak pernah berhenti, terus,” ucapnya, Selasa (17/2/2026), dengan nada datar yang justru menyimpan keteguhan.
Di tengah dominasi layar digital, Rusmansyah tetap menyusuri wilayah Pekayon hingga Kemang dengan berjalan kaki. Jika dulu ia membawa tumpukan koran tebal yang cepat habis sebelum siang, kini jumlahnya jauh lebih sedikit.
“Paling banyak 15 sampai 20 eksemplar sehari. Kalau ada majalah bisa sampai 30. Lumayan buat sehari,” jelasnya.
Angka itu mungkin terdengar kecil di tengah ledakan klik dan tayangan jutaan kali di media sosial. Tapi bagi Rusmansyah, setiap eksemplar adalah napas yang memperpanjang usia profesinya.
Ia sadar betul dunia telah berubah. Berita kini berpindah dalam hitungan detik, melintasi grup percakapan dan lini masa tanpa perlu tinta dan kertas. Namun menurutnya, ada yang tak tergantikan dari lembaran koran.
“Sebenarnya ada perbedaannya kalau membaca langsung. Kalau saya lebih enakan membaca,” ucapnya.
Kalimat itu sederhana, tapi mengandung ironi yang dalam. Di saat banyak orang mengeluh lelah oleh banjir informasi, ia justru menawarkan keheningan dalam lembaran cetak. Tak ada iklan pop-up, tak ada distraksi video pendek. Hanya teks, foto, dan aroma khas kertas yang baru dicetak.
Rusmansyah tak memusuhi teknologi. Ia hanya memilih bertahan.
“Selama masih ada percetakan dan masih ada yang beli, Insya Allah saya terus,” katanya mantap.
Ia tahu, suatu hari mungkin mesin cetak berhenti berputar. Tapi selama masih ada satu dua pelanggan yang menunggu di teras rumah, selama itu pula ia akan tetap berangkat pagi, membawa koran di tangan, menantang zaman dengan kesabaran.
Di tengah persaingan media digital yang serba cepat, langkah Rusmansyah mungkin terlihat kecil. Namun justru di situlah maknanya: bahwa budaya membaca koran cetak belum sepenuhnya hilang, ia hanya mengecil, menyisakan ruang bagi mereka yang setia.
“Yang penting rajin membaca,” pungkasnya.
Di era ketika berita dikonsumsi sambil lalu, Rusmansyah mengingatkan bahwa membaca pernah menjadi ritual. Dan mungkin, bagi sebagian orang, masih akan selalu begitu.(firman)




