Ini Dia Tips Puasa Aman untuk Penderita Asam Lambung

Redaktur author photo


Ilustrasi

inijabar.com, Kota Bekasi - Bulan Ramadan menjadi momen yang ditunggu-tunggu umat Muslim, namun bagi penderita maag dan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), ibadah puasa kerap diiringi kekhawatiran akan kambuhnya gejala asam lambung. 

Pasalnya, kondisi perut yang kosong selama belasan jam, ditambah perubahan pola makan, dinilai dapat memperparah keluhan pada saluran pencernaan.

Namun, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Universitas Indonesia, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD, menjelaskan bahwa tidak semua penderita asam lambung harus membatasi jenis makanan yang sama, tergantung pada riwayat dan kondisi masing-masing pasien.

"Terkait makanan, hampir semua boleh kecuali yang memang pasiennya sudah tidak cocok sedari awal, misalnya ada riwayatnya," ujar dr. Andi, dikutip dalam kanal YouTube nya.

Dr. Andi menyarankan, agar penderita asam lambung lebih waspada terhadap makanan yang diketahui secara pribadi dapat memicu keluhan, seperti hidangan bersantan pekat, masakan dengan tingkat kepedasan tinggi, atau makanan yang bersifat asam.

"Kita mencoba menghindari makanan-makanan yang sifatnya terlalu. Terlalu asam, terlalu asin, terlalu manis, terlalu banyak, terlalu sedikit, terlalu banyak dalam satu kali waktu," papar dr. Andi.

Terkait waktu makan, dr. Andi secara khusus mengingatkan agar penderita asam lambung, tidak menjadikan momen sahur dan berbuka sebagai kesempatan untuk makan dalam porsi berlebih.

"Berbuka puasa sama sahur itu porsinya jangan terlalu besar. Standar saja. Karena ini bukan seperti maju ke medan perang," tegasnya.

Sementara itu  Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi dan Hepatologi, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, justru memandang puasa sebagai kesempatan baik bagi kesehatan lambung apabila dijalani dengan cara yang benar.

[cut]

Ilustrasi

Ia mengidentifikasi pola makan tidak teratur, sebagai faktor utama yang memicu gangguan lambung, di mana kebiasaan menunda makan dalam waktu lama, lalu menyantap makanan sekaligus dalam jumlah besar kerap berujung pada munculnya keluhan pencernaan.

"Justru puasa itu bisa menjadi sarana untuk menyehatkan lambung kalau kita disiplin menjalaninya. Masalahnya sering terjadi ketika orang berbuka dengan porsi yang berlebihan atau memilih makanan yang salah," papar Prof. Ari.

Ia menyebut, konsumsi camilan tidak sehat di luar jam makan utama, seperti gorengan berlemak, makanan pedas, dan hidangan tinggi asam, sebagai kebiasaan yang rentan melukai dinding lambung.

"Saat puasa, kebiasaan ngemil sembarangan itu otomatis terhenti. Ini kesempatan bagus bagi lambung untuk beristirahat dan memperbaiki kondisinya. Manfaatkan jeda ini sebaik-baiknya dengan tidak langsung menyerbu makanan berat ketika berbuka," jelas Prof. Ari.

Prof. Ari juga mengingatkan, bahwa pola makan semrawut merupakan pemicu paling dominan bagi kekambuhan penyakit maag, sehingga Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki kebiasaan tersebut.

"Lambung kita akan jauh lebih sehat kalau kita memanfaatkan Ramadan untuk mengatur ulang pola makan. Mulai dari porsi, jenis makanan, hingga jadwal makannya," pungkas Prof. Ari. (Pandu)

Share:
Komentar

Berita Terkini