![]() |
| Sebuah video yang menggambarkan sejumlah warga tengah menggotong seorang pasien untuk dibawa ke rumah sakit. |
inijabar.com, Kabupaten Sukabumi- Di Kampung Cibening, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, suara lirih rintihan orang sakit harus bersaing dengan derak batu yang terinjak dan napas berat para lelaki yang memanggul tandu.
Video yang viral itu bukan adegan drama. Bukan pula potongan film dokumenter tentang wilayah terpencil di negeri antah berantah. Itu terjadi di Kabupaten Sukabumi, tepatnya di Desa Bantargadung, sebuah wilayah administratif yang secara resmi berada di bawah naungan Pemerintah Kabupaten Sukabumi.
Dalam rekaman berdurasi singkat tersebut, warga bergotong royong membawa seorang pasien menyusuri jalan desa yang terjal dan dipenuhi bebatuan. Tandu sederhana digenggam erat, kaki mereka melangkah hati-hati agar tak terpeleset. Satu kesalahan kecil saja bisa berujung petaka.
Di kanan-kiri, bukan aspal hitam yang terhampar, melainkan batu kasar dan tanah yang mengeras saat kemarau, berubah licin ketika hujan turun. Kendaraan roda dua sulit melintas. Roda empat? Nyaris mustahil.
“Kalau ada yang sakit, terpaksa digotong. Motor saja sulit lewat,” ujar seorang warga dalam video itu. Kalimat yang terdengar biasa, tetapi menyimpan beban panjang bertahun-tahun.
Jalan 2,2 Kilometer yang Terasa Sejauh Janji
Ruas jalan desa sepanjang sekitar 2,2 kilometer itu hingga kini sebagian besar belum tersentuh pengaspalan. Baru sekitar 300 meter yang diperbaiki melalui program pemerintah daerah pada tahun anggaran sebelumnya. Sisanya? Masih setia dengan batu dan tanah.
Bagi sebagian orang, angka 2,2 kilometer mungkin terasa pendek. Namun bagi warga Cibening yang harus memikul orang sakit atau jenazah melewati jalur tersebut, jarak itu bisa terasa sepanjang penderitaan.
Setiap kali ada warga sakit parah, proses evakuasi harus dilakukan manual. Ketika ada yang meninggal dunia, jenazah pun dipanggul melewati jalur yang sama. Tangis keluarga bercampur dengan peluh para penggotong.
[cut]
Ironisnya, kondisi ini bukan cerita baru. Warga menyebut situasi tersebut sudah berlangsung lama. Bukan sekali dua kali. Bukan insiden darurat sesaat.
Musyawarah dan Pilihan yang Serba Sulit
Dalam musyawarah desa sebelumnya, sempat dibahas penggunaan sisa anggaran desa untuk memperbaiki jembatan yang rusak akibat hujan deras. Namun masyarakat mengusulkan agar dana tersebut difokuskan pada pengaspalan jalan utama desa yang dinilai jauh lebih mendesak.
Pilihan yang tidak mudah. Infrastruktur dasar dipertaruhkan satu sama lain. Jembatan penting. Jalan pun vital. Namun di tengah keterbatasan anggaran desa, warga hanya bisa berharap skala prioritas dari pemerintah daerah benar-benar berpihak pada kebutuhan paling mendesak.
Karena bagi mereka, jalan bukan sekadar urusan kenyamanan. Ini soal keselamatan. Soal hidup dan mati.
Jalan di Kampung Cibening bukan hanya jalur fisik. Ia adalah akses menuju puskesmas, sekolah, pasar, dan harapan hidup yang lebih baik. Ketika jalan rusak, yang terhambat bukan hanya kendaraan, tetapi juga pelayanan kesehatan, distribusi ekonomi, dan masa depan anak-anak desa.
Viralnya video tersebut menjadi tamparan keras di era ketika pembangunan infrastruktur sering digaungkan sebagai bukti kemajuan. Di tengah deretan proyek megah dan peresmian yang disorot kamera, masih ada warga yang harus menggotong orang sakit karena ambulans tak mampu menjangkau rumah mereka.
Pertanyaannya sederhana: sampai kapan warga harus memikul beban yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara?
Di atas batu-batu tajam Kampung Cibening, warga telah menunjukkan solidaritas yang luar biasa. Mereka tidak menunggu. Mereka bergerak. Mereka saling menguatkan.
[cut]
Namun solidaritas warga seharusnya tidak menjadi alasan pembiaran. Gotong royong adalah kekuatan sosial, bukan solusi permanen atas kelalaian pembangunan.
Video itu mungkin akan tenggelam oleh konten lain dalam beberapa hari ke depan. Tapi bagi warga Desa Bantargadung, jalan berbatu itu tetap ada. Tetap terjal. Tetap harus dilalui—entah sambil memikul orang sakit, atau membawa harapan yang terus ditunda.(*)






