![]() |
| Ilustrasi |
inijabar.com, Kota Bekasi- Kematian tragis pensiunan PT Jakarta International Container Terminal (JICT), Ermanto Usman, di rumahnya di wilayah Bekasi pada Senin (2/3/2026), memunculkan tanda tanya besar. Selain karena korban ditemukan tewas bersimbah darah di samping istrinya yang masih dalam kondisi kritis, kasus ini juga memicu sorotan publik setelah sejumlah nama tokoh nasional disebut dalam kesaksian korban sebelum meninggal.
Dalam sebuah rekaman podcast Forum Keadilan TV sebelum wafat, Ermanto diketahui sempat membeberkan dugaan praktik korupsi dalam pengelolaan terminal pelabuhan. Dalam kesaksiannya itu, ia bahkan menyebut sejumlah nama yang diduga berkaitan dengan persoalan tersebut.
Nama Menteri BUMN Erick Thohir disebut hingga 33 kali. Selain itu, nama pengusaha Garibaldi Thohir muncul 23 kali. Sementara itu, nama Patrick Sugito Walujo disebut 12 kali dan mantan Menteri BUMN Rini Soemarno disebut 10 kali.
Penyebutan nama-nama tersebut sontak memunculkan spekulasi di publik mengenai kemungkinan adanya konflik kepentingan dalam pengelolaan bisnis terminal pelabuhan yang selama ini dikenal sebagai sektor strategis.
Anak pertama korban, Fiandy A Putra, menilai kematian ayahnya tidak bisa dipandang sebagai perampokan biasa. Ia meyakini ayahnya menjadi target karena berupaya membuka informasi yang dianggap sensitif.
“Bapak saya tahu risikonya. Ia mencoba membuka kebenaran dan memperjuangkan orang-orang di lapangan,” ujar Fiandy.
Hal ini menuai opini publik bahwa penyebutan nama tokoh-tokoh nasional dalam kesaksian seorang mantan pekerja pelabuhan dapat terjadi karena beberapa kemungkinan. Pertama, posisi para tokoh tersebut yang berkaitan dengan kebijakan BUMN dan sektor pelabuhan, sehingga sering muncul dalam pembahasan terkait pengelolaan perusahaan negara.
Kedua, adanya kemungkinan korban memiliki informasi internal mengenai tata kelola perusahaan atau relasi bisnis yang dianggap tidak transparan. Namun hingga kini belum ada bukti hukum yang menyatakan keterlibatan tokoh-tokoh yang disebut dalam dugaan korupsi tersebut.
Sebelumnya, anggota Komisi VI DPR RI Rieke Diah Pitaloka yang sempat takziah ke rumah almarhum Ermanto di Jatibening Kota Bekasi meminta aparat kepolisian mengusut tuntas kasus ini.
Rieke menilai kematian korban harus diselidiki secara menyeluruh, termasuk kemungkinan adanya motif lain di balik peristiwa tersebut.
“Kalau ada dugaan pembunuhan berencana atau kaitannya dengan upaya membuka kasus korupsi, maka ini harus diungkap seterang-terangnya,” ujarnya.
Hingga saat ini, kepolisian masih melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut. Aparat belum menyimpulkan motif pasti dari kejadian yang merenggut nyawa Ermanto Usman.
Namun, munculnya nama sejumlah pejabat dan tokoh bisnis dalam kesaksian korban membuat publik menaruh perhatian besar pada kasus ini. Banyak pihak berharap penyelidikan berjalan transparan agar spekulasi yang berkembang di masyarakat dapat dijawab dengan fakta hukum yang jelas.(*)




