![]() |
| Ilustrasi |
inijabar.com, Kota Tasikmalaya - Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, membeberkan kondisi fiskal daerah yang tengah mengalami tekanan serius akibat pemotongan Transfer Keuangan Daerah (TKD) dari pemerintah pusat serta terhentinya bantuan keuangan (Bankeu) dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Penurunan kapasitas anggaran terlihat signifikan. Jika pada 2021 APBD Kota Tasikmalaya masih berada di atas Rp2 triliun, kini menyusut menjadi sekitar Rp1,4 triliun. Kondisi ini mempersempit ruang fiskal pemerintah daerah dalam membiayai program pembangunan dan pelayanan publik.
Viman menilai, selama ini daerah cenderung bergantung pada aliran dana pusat dan provinsi. Ketika sumber tersebut menyusut, pemerintah daerah dipaksa untuk beradaptasi cepat dan mencari alternatif pembiayaan.
“Kita sedang dipaksa untuk bisa berenang dengan cepat di tengah kondisi sulit,” ujarnya dalam sebuah acara Musrembang.
Meski tekanan fiskal meningkat, indikator makro ekonomi daerah justru menunjukkan kinerja yang relatif positif. Pertumbuhan ekonomi Kota Tasikmalaya tercatat 5,39 persen, melampaui rata-rata provinsi. Angka kemiskinan juga menurun menjadi 10,84 persen, sementara tingkat pengangguran terbuka turun ke 6,43 persen. Pendapatan per kapita pun naik menjadi Rp42,1 juta per tahun.
Namun demikian, capaian tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan ketahanan ekonomi jangka panjang. Di tengah konflik global yang memicu kenaikan harga energi dan bahan pokok, tekanan inflasi berpotensi menggerus daya beli masyarakat.
Kondisi ini dapat berdampak pada perlambatan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Di sisi lain, menyusutnya fiskal daerah berisiko menahan laju belanja pemerintah yang biasanya menjadi stimulus ekonomi lokal. Jika tidak diimbangi dengan optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan inovasi pembiayaan, maka ruang intervensi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi akan semakin terbatas.
Situasi ini menjadi momentum bagi Pemerintah Kota Tasikmalaya untuk melakukan reposisi strategi fiskal, termasuk memperkuat basis pajak daerah, menarik investasi, serta meningkatkan efisiensi belanja.
Dengan kombinasi tekanan global dan keterbatasan fiskal, Kota Tasikmalaya kini menghadapi ujian ganda: menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memastikan ketahanan ekonomi masyarakat tetap terjaga.(*)




