Milad Gubernur Jabar: Cinta, Kuasa, dan Janji Seorang Dedi Mulyadi

Redaktur author photo
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat merayakan Milad ke 55 di kediamannya di Lembur Pakuan Subang.

HARI ini Sabtu 11 April 2026, nama Dedi Mulyadi kembali menjadi sorotan. Dikenal dengan sapaan Bapak Aing atau KDM (Kang Dedi Mulyadi. Ya hari ini genap berusia 55 tahun.

'Bapak Aing' dikenal bukan hanya karena posisinya sebagai orang nomor satu di Jawa Barat, tetapi juga karena perjalanan hidupnya yang penuh warna antara kekuasaan, budaya, dan kisah cinta yang tak biasa.

"Hari ini saya tidak memakai lilin untuk ditiup. Karena bagi saya (api) lilin harus dibiarkan menyala,"ujarnya saat memberi sambutan di peringatan Milad ke 55 di Lembur Pakuan Subang. Jumat (10/4/2026) malam.

Pria yang identik dengan ikat kepala totopong dan kecintaannya pada budaya Sunda ini bukan sosok yang lahir dari kemapanan. Ia menapaki karier dari bawah, membangun citra sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat. 

Nama Dedi mulai dikenal luas saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta selama dua periode. Gaya kepemimpinannya yang nyentrik menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi Sunda dalam kebijakan publik—membuatnya dicintai sekaligus menuai kontroversi.

Dari Purwakarta, langkah politiknya terus menanjak hingga akhirnya dipercaya memimpin Jawa Barat. Namun di balik perjalanan karier yang terlihat mulus, ada sisi lain yang jarang tersorot: kehidupan pribadinya.

Dedi bukan hanya politisi, tetapi juga seorang ayah yang dikenal sangat dekat dengan anak-anaknya. Salah satu sosok yang kerap ia sebut adalah putrinya, Ni Hyiang Sukma Ayu. Dalam sebuah kesempatan, Dedi pernah melontarkan pernyataan yang mengundang perhatian publik.

“Lebih baik saya memilih tidak beristri selama lima tahun kecuali anak saya Ni Hyiang Sukma Ayu mengizinkan.”

Pernyataan itu bukan sekadar kalimat emosional. Bagi Dedi, keluarga adalah pusat dari segala keputusan hidupnya. Ia menempatkan restu anak sebagai prioritas, sebuah sikap yang jarang terlihat di kalangan pejabat publik.

Perjalanan cintanya sendiri tak selalu mulus. Dedi dikenal pernah menjalani dinamika rumah tangga yang menjadi konsumsi publik. Namun alih-alih menutup diri, ia justru tampil terbuka—menjadikan pengalaman pribadi sebagai bagian dari narasi hidup yang ia bagikan kepada masyarakat.

Di tengah jabatan dan sorotan publik, Dedi tetap memegang teguh identitasnya sebagai “urang Sunda” yang menjunjung nilai kesederhanaan, kekeluargaan, dan spiritualitas. 

Bahkan dalam banyak kesempatan, ia lebih sering tampil tanpa sekat protokoler, menyapa warga di kampung-kampung, mendengar langsung keluhan mereka.

Kini, di usia barunya, Dedi Mulyadi berada di persimpangan antara masa lalu dan masa depan. Karier politiknya masih panjang, namun kisah hidupnya sudah menjadi cerita yang menginspirasi tentang bagaimana kekuasaan bisa berjalan berdampingan dengan nilai-nilai keluarga.

Di balik jabatan gubernur, ada seorang ayah yang memilih menunda kebahagiaan pribadinya demi satu hal sederhana: restu anaknya.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini