Cibaduyut Sepi Pembeli: Dari Ikon Sepatu Kulit ke Deretan Toko Sunyi

Redaktur author photo

 

Salah satu toko sepatu kerajinan kulit di Cibaduyut

inijabar.com, Kota Bandung- Dulu, kawasan Cibaduyut adalah simbol kejayaan industri sepatu kulit lokal. Kini, denyutnya melemah. Deretan toko yang dulu ramai kini terlihat lengang. Di balik itu, ada cerita nyata dari para pelaku usaha yang bertahan di tengah perubahan zaman.

“Dulu rame, sekarang nunggu pembeli”

Sepinya Cibaduyut bukan sekadar angka statistik—ini tentang pelaku usaha yang merasakan langsung penurunan omzet, perubahan pasar, dan tekanan kompetisi global.

Suara Pelaku Usaha: Realita di Lapangan

Seorang pedagang lama bahkan sudah merasakan penurunan sejak lama.

“Hadirnya gerai di mall membuat minat konsumen ke Cibaduyut semakin surut,” ujar salah satu pedagang sepatu. Sabtu (2/5/2026)

Fenomena ini terus berlanjut hingga sekarang, dengan tantangan yang semakin kompleks.

Pengrajin sepatu kulit, Ahmad Jayadi, menggambarkan tekanan kompetisi saat ini.

“Produksi sekarang harus bisa bersaing dengan produk luar yang sudah masuk pasar,”katanya.

Sementara pelaku brand lokal, Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, menyoroti penurunan kualitas dan identitas.

“Mungkin hanya lima persen yang mempertahankan kualitas handmade,”ucapnya.

Ini menunjukkan bahwa bukan hanya pasar yang berubah—DNA produk Cibaduyut pun ikut bergeser.

Kenapa Cibaduyut Tidak Seramai Dulu

1. Perubahan Pola Belanja

Konsumen kini beralih ke online. Bahkan beberapa pengrajin mengakui, bertahan karena masuk ke penjualan digital, bukan dari toko fisik.

2. Serbuan Produk Impor Murah

Sejak lama, produk impor lebih diminati karena harga dan model. 

Sepatu impor lebih laku karena harga dan corak menarik

3. Turunnya Kunjungan Wisata Belanja

Cibaduyut dulunya destinasi wajib wisatawan ke Bandung, kini kalah oleh tren wisata kuliner dan lifestyle.

4. Krisis Regenerasi Pengrajin

Banyak usaha turun-temurun, tapi generasi muda mulai enggan melanjutkan. Ini mengancam keberlanjutan industri lokal.

5. Perubahan Identitas Produk

Dari handmade ke produksi massal.
Akibatnya:

Nilai eksklusif turun

Daya saing melemah

Citra premium hilang

Potret Nyata: Bertahan atau Tersingkir

Meski begitu, sebagian pelaku usaha mulai beradaptasi:

  • Jualan online
  • Masuk pasar luar daerah
  • Bangun brand sendiri

Namun tanpa perubahan besar, banyak toko tetap terjebak dalam penurunan.

Sepinya Cibaduyut adalah kombinasi dari perubahan zaman dan lambatnya adaptasi. Kutipan para pelaku usaha mempertegas: ini bukan sekadar isu ekonomi, tapi soal survival industri tradisional di era digital.

Cibaduyut belum mati tapi jelas tidak lagi sama.(novi)

Share:
Komentar

Berita Terkini