![]() |
| Kirab Mahkota Binokasih |
inijabar.com, Sumedang - Di tengah geliat modernisasi Jawa Barat, kisah Sumedang Larang kembali menemukan relevansinya. Kerajaan yang pernah berdiri sebagai penerus kejayaan Kerajaan Pajajaran ini bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi identitas budaya yang masih terasa hingga hari ini.
Salah satu simbol paling kuat dari warisan tersebut adalah Mahkota Binokasih, pusaka legendaris yang dipercaya menjadi lambang legitimasi kekuasaan dan kebijaksanaan raja-raja Sunda.
Dalam berbagai seremoni budaya, termasuk peringatan hari jadi daerah, mahkota ini kembali dihadirkan sebagai pengingat bahwa kepemimpinan bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga amanah moral kepada rakyat.
Dari Legenda ke Realita Sosial
Dalam catatan sejarah, Prabu Geusan Ulun dikenal sebagai sosok yang berhasil membawa Sumedang Larang menuju masa kejayaan setelah runtuhnya Pajajaran. Ia tidak hanya memimpin secara politik, tetapi juga menjaga nilai-nilai kearifan lokal Sunda seperti gotong royong, tata krama, dan keseimbangan dengan alam.
Nilai-nilai tersebut kini justru menjadi relevan di tengah tantangan kekinian: urbanisasi, krisis lingkungan, hingga degradasi budaya. Kota-kota di Jawa Barat seperti Bandung dan Bekasi tumbuh pesat, namun di sisi lain menghadapi persoalan klasik seperti kemacetan, banjir, hingga kesenjangan sosial.
Refleksi untuk Kepemimpinan Hari Ini
Kisah Sumedang Larang juga sering dijadikan cermin bagi para pemimpin masa kini. Filosofi kepemimpinan Sunda yang menekankan “silih asih, silih asah, silih asuh” menjadi kontras dengan realitas politik modern yang kerap diwarnai konflik kepentingan.
Dalam konteks Jawa Barat hari ini, figur-figur publik seperti Dedi Mulyadi kerap mengangkat kembali narasi budaya Sunda dalam pendekatan kepemimpinannya. Mulai dari pelestarian adat hingga simbol-simbol kerajaan, upaya ini dinilai sebagai strategi membangun kedekatan emosional dengan masyarakat sekaligus memperkuat identitas lokal di tengah arus globalisasi.
Antara Pelestarian dan Komersialisasi
Namun, kebangkitan narasi sejarah juga tidak lepas dari kritik. Sejumlah kalangan menilai bahwa simbol-simbol seperti Mahkota Binokasih berpotensi menjadi sekadar komoditas seremoni jika tidak diiringi dengan kebijakan nyata yang menyentuh kebutuhan rakyat.
Apalagi di era digital, sejarah mudah direduksi menjadi konten viral tanpa pemaknaan mendalam. Di sinilah tantangan terbesar: bagaimana menjaga agar warisan Sumedang Larang tetap hidup sebagai nilai, bukan sekadar simbol.
Menjaga Akar di Tengah Perubahan
Sumedang Larang mengajarkan bahwa peradaban besar dibangun bukan hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi, tetapi oleh nilai dan budaya yang dijaga lintas generasi. Dalam konteks kekinian, pelestarian sejarah bukan berarti menolak modernitas, melainkan menjadikannya pijakan untuk melangkah lebih bijak.
Di tengah hiruk-pikuk pembangunan Jawa Barat, kisah ini seolah berbisik: kemajuan tanpa akar hanya akan melahirkan kehilangan arah.(*)



