Kematian Tiga Kru Sisingaan Asal Subang di Bekasi, Kelalaian Atau Tragedi?

Redaktur author photo
Para pemain Sisingaan asal Subang sebelum kejadian tragis menewaskan 3 orang crew tersengat aliran listrik 

inijabar.com, Kabupaten Bekasi- Peristiwa tragis yang menewaskan tiga kru pertunjukan Sisingaan asal Subang yang tengah berkeliling di Kampung Cibeureum, Desa Mekarmukti, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, menyisakan banyak pertanyaan.

Insiden yang terjadi saat rombongan pertunjukan hendak melanjutkan perjalanan setelah beristirahat itu diduga dipicu sengatan listrik dari kabel yang bersentuhan dengan gerobak sound system berbahan besi.

Korban meninggal diketahui berinisial G (18), J (20), dan R (29). Sementara dua korban lainnya mengalami luka bakar dan menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Kapolres Metro Bekasi AKBP Sumarni menyatakan bahwa peristiwa bermula ketika salah seorang kru di atas gerobak sound system diduga mencoba mengangkat kabel listrik yang melintang di jalan.

"Arus listrik kemudian diduga merambat ke sejumlah orang di sekitar gerobak sound system yang terbuat dari besi," ungkapnya.

Namun di balik kronologi tersebut, muncul sejumlah aspek yang patut mendapat perhatian serius.

Mengapa Arus Listrik Bisa Menelan Banyak Korban Sekaligus?

Berdasarkan analisis keselamatan kelistrikan, arus listrik yang mengenai benda logam besar seperti rangka gerobak sound system dapat menyebar dengan sangat cepat ke seluruh permukaan konduktor.

Ketika satu orang tersengat dan refleks memegang rangka logam, orang lain yang ikut mendorong gerobak atau berada dalam kontak fisik berpotensi menjadi jalur aliran listrik menuju tanah.

Fenomena ini dikenal sebagai electrical chain shock, di mana satu sumber arus dapat mengakibatkan banyak korban dalam waktu bersamaan.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan sejumlah kru tiba-tiba terjatuh hampir bersamaan, mengindikasikan adanya penyebaran arus melalui struktur logam yang digunakan sebagai kendaraan sound system.

Dugaan Kelalaian Keselamatan Acara

Peristiwa ini membuka kembali persoalan klasik dalam berbagai kegiatan hiburan rakyat di Indonesia, yakni minimnya standar keselamatan operasional.

Beberapa pertanyaan yang muncul antara lain:

1. Apakah Jalur Kabel Sudah Dipetakan?

Dalam kegiatan pawai atau arak-arakan, penyelenggara seharusnya melakukan survei rute terlebih dahulu.

Kabel listrik yang melintang rendah merupakan salah satu risiko utama bagi kendaraan tinggi seperti Sound system keliling, Mobil hias, Ogoh-ogoh, Sisingaan dengan dekorasi tinggi

Jika kabel tersebut sudah diketahui keberadaannya sejak awal, seharusnya terdapat mitigasi sebelum rombongan melintas.

2. Apakah Ada Petugas Keselamatan Lapangan?

Di banyak negara, kendaraan dengan tinggi tertentu wajib didampingi petugas pengarah yang bertugas mengamati hambatan di atas kendaraan.

Dalam kasus ini belum diketahui apakah terdapat petugas khusus yang bertanggung jawab mengawasi potensi bahaya kelistrikan selama perjalanan rombongan.

3. Apakah Sound System Memiliki Grounding?

Grounding atau sistem pentanahan berfungsi mengalirkan arus bocor ke tanah sehingga tidak menyebar ke badan kendaraan.

Jika gerobak tidak memiliki sistem grounding memadai, maka seluruh rangka besi berpotensi menjadi penghantar listrik yang mematikan.

Siapa yang Bertanggung Jawab?

Secara hukum, penyelidikan biasanya akan mengarah pada beberapa aspek:

Penyelenggara Acara

Apakah telah melakukan penilaian risiko sebelum kegiatan berlangsung?

Pemilik Sound System

Apakah kendaraan dan instalasi listrik yang digunakan memenuhi standar keamanan?

Pengelola Jaringan Listrik

Jika ditemukan kabel menjuntai di bawah standar keselamatan, maka kondisi tersebut juga dapat menjadi bagian dari objek investigasi.

Pemerintah Setempat

Apakah kegiatan yang melibatkan kerumunan besar dan kendaraan berukuran tinggi telah melalui prosedur perizinan dan pengawasan yang memadai?

Hingga kini kepolisian masih melakukan olah tempat kejadian perkara, meminta keterangan saksi, dan mengumpulkan bukti untuk memastikan penyebab pasti tragedi tersebut.

Potret Pekerja Hiburan Rakyat yang Rentan

Di luar aspek teknis, tragedi ini juga memperlihatkan kondisi para pekerja seni tradisional yang sering kali bekerja tanpa perlindungan keselamatan memadai.

Mereka adalah bagian penting dari pelestarian budaya lokal, namun sering menghadapi berbagai risiko Kecelakaan lalu lintas saat arak-arakan, Sengatan listrik dari perangkat hiburan, Cedera akibat peralatan berat, Minimnya perlindungan asuransi kerja

Ironisnya, sebagian besar korban dalam peristiwa ini masih berusia muda dan sedang mencari nafkah melalui pertunjukan seni tradisional.

Pelajaran dari Tragedi Cikarang

Peristiwa yang merenggut tiga nyawa ini seharusnya menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan seluruh kegiatan hiburan rakyat di Indonesia.

Pengamat keselamatan publik menilai setiap penyelenggaraan pawai budaya yang melibatkan kendaraan, sound system besar, dan instalasi listrik harus memiliki:

-Survei jalur sebelum acara

-Pemeriksaan instalasi listrik

-Tim keselamatan lapangan

-Standar tinggi kendaraan dan alat peraga

-Asuransi peserta dan kru

-Tanpa langkah tersebut, tragedi serupa berpotensi kembali terjadi.

"Ini bukan sekadar kecelakaan biasa. Tiga orang meninggal dalam hitungan detik akibat satu sumber bahaya yang sebenarnya dapat diidentifikasi dan dicegah sejak awal."

Kini keluarga korban menunggu jawaban atas satu pertanyaan besar: apakah tragedi ini murni musibah, atau ada unsur kelalaian yang menyebabkan tiga pekerja seni kehilangan nyawa saat mencari nafkah?.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini