Pelaku Ditangkap Polisi, Dedi Mulyadi Murka Preman Palak Wisatawan

Redaktur author photo

inijabar.com, Kota Bandung- Viral di media sosial, aksi seorang pria berkacamata yang diduga melakukan pungutan liar (pungli) terhadap pengendara mobil berpelat B di kawasan Dago, Kota Bandung, memicu kemarahan publik. 

Peristiwa yang terjadi di tengah euforia perayaan kemenangan Persib Bandung itu kini menjadi sorotan karena dinilai dapat merusak citra keamanan Kota Bandung sebagai destinasi wisata unggulan Jawa Barat.

Pria yang dijuluki netizen sebagai "bang jago berkacamata" tersebut telah diamankan pihak kepolisian untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Polisi menegaskan bahwa tindakan pelaku merupakan ulah oknum dan tidak mewakili Bobotoh maupun masyarakat Bandung secara keseluruhan.

Namun, kasus ini memunculkan kekhawatiran yang lebih luas. Di tengah upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggenjot sektor pariwisata dan investasi, munculnya aksi premanisme terhadap kendaraan luar daerah berpotensi menciptakan persepsi negatif di mata wisatawan.

Dedi Mulyadi Tak Tolerir Premanisme

Gubernur Jawa Barat, , selama ini dikenal memiliki sikap keras terhadap berbagai bentuk premanisme yang meresahkan masyarakat. Dalam berbagai kesempatan, Dedi menegaskan bahwa ruang publik harus menjadi tempat yang aman bagi seluruh warga, termasuk wisatawan yang datang ke Jawa Barat.

Bagi Dedi, keamanan bukan hanya soal ketertiban, tetapi juga menyangkut kepercayaan publik. Ketika wisatawan merasa terancam, maka dampaknya bisa meluas hingga sektor ekonomi, UMKM, hotel, restoran, hingga citra daerah secara keseluruhan.

"Kota wisata hidup dari rasa aman. Jika wisatawan takut datang karena khawatir dipalak atau diintimidasi, maka yang rugi bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pariwisata," menjadi semangat yang kerap disampaikan dalam berbagai kebijakan penegakan ketertiban di Jawa Barat.

Dampak Besar bagi Pariwisata Bandung

Bandung selama puluhan tahun dikenal sebagai destinasi favorit warga Jabodetabek. Setiap akhir pekan, ribuan kendaraan berpelat B memasuki Bandung untuk berwisata, berbelanja, maupun menikmati kuliner.

Karena itu, aksi pemalakan terhadap kendaraan luar daerah memiliki dampak psikologis yang besar. Meski dilakukan oleh satu atau dua orang oknum, video yang viral di media sosial dapat membentuk persepsi bahwa wisatawan tidak aman berada di Bandung.

Dalam era digital, satu video berdurasi beberapa detik dapat menjangkau jutaan orang dan memengaruhi keputusan wisata seseorang. Tidak sedikit calon wisatawan yang akhirnya memilih destinasi lain jika merasa keamanan menjadi masalah.

Polisi Bergerak Cepat

Langkah cepat kepolisian mengamankan terduga pelaku mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Penindakan tegas dinilai penting untuk memberikan pesan bahwa tindakan premanisme tidak memiliki tempat di Kota Bandung.

Polisi juga menegaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan tindakan individu dan tidak boleh digeneralisasi sebagai perilaku pendukung Persib maupun warga Bandung secara keseluruhan.

Mayoritas masyarakat Bandung dan Bobotoh justru dikenal ramah terhadap wisatawan yang datang dari berbagai daerah.

Jangan Biarkan Oknum Rusak Nama Bandung

Kasus "bang jago berkacamata" menjadi pengingat bahwa satu tindakan premanisme dapat merusak kerja keras ribuan pelaku usaha dan masyarakat yang selama ini menjaga nama baik Bandung sebagai kota wisata.

Di bawah kepemimpinan Gubernur Jawa Barat, upaya pemberantasan premanisme diperkirakan akan terus diperkuat. Pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat memiliki kepentingan yang sama: memastikan Bandung tetap menjadi kota yang aman, nyaman, dan ramah bagi siapa pun yang datang berkunjung.

Jika aksi-aksi seperti ini tidak ditindak tegas, maka bukan hanya wisatawan yang enggan datang, tetapi juga investor yang mulai mempertanyakan stabilitas dan keamanan daerah. Karena itu, penegakan hukum terhadap pelaku premanisme bukan sekadar soal pidana, melainkan menjaga reputasi Jawa Barat di mata publik

Share:
Komentar

Berita Terkini