![]() |
| Penertiban salah satu titik di kawasan puncak Bogor |
WAJAH kawasan Puncak, khususnya di wilayah Ciloto yang berada di perbatasan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur. Deretan warung semi permanen yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari pemandangan khas jalur wisata Puncak kini banyak yang telah ditertibkan pada Sabtu (13/6/2026)
Bagi sebagian orang, langkah tersebut dianggap sebagai keberhasilan penataan kawasan wisata. Namun bagi yang lain, hilangnya warung-warung pinggir jalan itu justru menghapus sebagian kenangan dan identitas Puncak yang selama ini melekat di benak wisatawan.
Banyak orang datang ke Puncak bukan hanya untuk mengunjungi kebun teh, vila, atau objek wisata alam. Perjalanan menuju lokasi tujuan sering kali menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri.
Di sepanjang jalur Ciloto, wisatawan terbiasa berhenti di warung sederhana yang berdiri di tepi jalan. Mereka menikmati secangkir kopi panas sambil memandangi hamparan pegunungan dan lautan lampu kendaraan yang berkelok di malam hari.
Suasana seperti itu sulit ditemukan di kota besar. Meski harga kopi kerap dikeluhkan karena bisa mencapai Rp20 ribu per gelas, bahkan lebih saat musim liburan, tetap saja warung-warung tersebut tidak pernah sepi pengunjung.
Bagi wisatawan, yang dibayar bukan sekadar kopi, melainkan pengalaman.
Parkir Mahal, Tetap Ramai
Fenomena menarik di Puncak adalah banyak wisatawan tetap rela membayar mahal.
Tarif parkir yang kadang dianggap tidak masuk akal saat malam minggu atau libur panjang tidak pernah benar-benar membuat kawasan itu kehilangan pengunjung.
Alasannya sederhana. Puncak menawarkan sesuatu yang tidak bisa dibeli di pusat perbelanjaan atau kafe modern.
Udara dingin, kabut yang turun perlahan, suara kendaraan yang lalu lalang, serta pemandangan pegunungan menjadi paket lengkap yang dicari warga Jabodetabek setelah penat bekerja selama sepekan.
Penataan atau Penghapusan Identitas?
Pemerintah Provinsi Jawa Barat memiliki alasan kuat melakukan penertiban.
Selama bertahun-tahun, bangunan liar di sepanjang jalur Puncak dituding menjadi penyebab semrawutnya tata ruang, mengganggu estetika kawasan, hingga berpotensi memperparah masalah lingkungan.
![]() |
| Para pedagang dan warga di kawasan puncak Bogor menyaksikan puing-puing bekas warung yang ditertibkan |
Dari sisi tata kelola, penertiban merupakan langkah yang logis. Namun muncul pertanyaan yang mulai ramai dibicarakan masyarakat: apakah penataan harus selalu berarti menghilangkan seluruh aktivitas ekonomi yang sudah tumbuh puluhan tahun?
Karena faktanya, banyak pelaku usaha kecil menggantungkan hidup dari keberadaan wisatawan yang singgah di kawasan tersebut.
Kenangan yang Sulit Digantikan
Bagi generasi 1990-an hingga awal 2000-an, perjalanan ke Puncak memiliki ritual tersendiri.
Berhenti membeli jagung bakar, menikmati kopi panas di warung sederhana lalu berfoto dengan latar pegunungan. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Cianjur atau kawasan wisata lainnya.
Ritual sederhana itu membentuk memori kolektif jutaan warga Jabodetabek.
Karena itulah, meskipun bangunan yang ditertibkan hanya berupa warung semi permanen, dampak emosionalnya terasa jauh lebih besar.
Yang hilang bukan sekadar bangunan, tetapi bagian dari cerita perjalanan banyak orang.
Tantangan Pemprov Jabar Berikutnya
Keberhasilan menertibkan kawasan tentu perlu diapresiasi. Namun pekerjaan sesungguhnya baru dimulai setelah alat berat meninggalkan lokasi.
Masyarakat kini menunggu konsep baru yang akan dihadirkan pemerintah.
Apakah kawasan tersebut akan disulap menjadi ruang terbuka hijau?
Apakah akan dibangun area UMKM yang lebih tertata?
Ataukah justru menjadi kawasan steril tanpa aktivitas ekonomi masyarakat?
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah penataan Puncak dikenang sebagai keberhasilan besar atau justru menjadi kontroversi baru.
Antara Nostalgia dan Masa Depan
Puncak sedang memasuki babak baru. Di satu sisi, pemerintah ingin mengembalikan fungsi kawasan sesuai tata ruang dan menjaga kelestarian lingkungan.
Di sisi lain, masyarakat masih menyimpan nostalgia terhadap warung-warung sederhana yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan sekadar menertibkan bangunan liar, melainkan menemukan titik temu antara keindahan alam, ketertiban kawasan, dan keberlangsungan ekonomi warga.
Karena bagi banyak orang, Puncak bukan hanya destinasi wisata.
Puncak adalah kumpulan kenangan yang tersaji bersama secangkir kopi hangat di pinggir jalan.(*)




