Ribuan Siswa Tersingkir, Jalur Rapor Sekolah Maung SMAN 1 Kota Bekasi Dipertanyakan

Redaktur author photo
SMAN 1 Kota Bekasi

inijabar.com, Kota Bekasi – Antusiasme masyarakat terhadap program Sekolah Maung Jawa Barat ternyata memunculkan persoalan baru. Di SMAN 1 Kota Bekasi, jumlah pendaftar jalur rapor membludak hingga ribuan siswa, sementara kuota yang tersedia sangat terbatas.

Data pendaftaran menunjukkan, pada jalur Kompetensi Rapor tersedia kuota hanya 192 kursi, sementara jumlah pendaftar mencapai 1.516 siswa. Artinya, sekitar 1.324 siswa dipastikan tersingkir dari jalur ini.

Sementara itu, pada jalur Kompetensi Akademik, kuota yang disediakan sebanyak 77 kursi dengan jumlah pendaftar 180 siswa. Persaingan tetap ketat, meski tidak seberat jalur rapor.

Yang menarik justru terjadi pada jalur lain. Pada Potensi Akademik, kuota mencapai 38 kursi, namun pendaftarnya hanya 15 siswa. Sedangkan pada Akademik Kejuaraan, kuota sebanyak 77 kursi hanya diperebutkan oleh 21 siswa.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: mengapa terjadi ketimpangan ekstrem antara satu jalur dan jalur lainnya?

Jalur Rapor Jadi Magnet

Banyak orang tua dan siswa memilih jalur rapor karena dianggap paling realistis. Tidak semua siswa memiliki sertifikat kejuaraan atau prestasi akademik khusus yang menjadi syarat pada jalur lainnya.

Akibatnya, konsentrasi pendaftar menumpuk di jalur rapor hingga mencapai lebih dari tujuh kali lipat kuota yang tersedia.

Jika dihitung secara sederhana, tingkat persaingan pada jalur rapor mencapai hampir 1 banding 8, jauh lebih berat dibanding jalur lain yang bahkan belum memenuhi kuota.

Kemana Ribuan Siswa yang Gugur?

Pertanyaan yang kini menjadi sorotan adalah nasib ribuan siswa yang gagal lolos.

Dengan lebih dari seribu peserta tersisih di satu sekolah saja, publik mulai mempertanyakan kesiapan sistem penerimaan dalam mengakomodasi tingginya minat masyarakat terhadap Sekolah Maung.

Apakah peserta yang gagal masih dapat dialihkan ke jalur lain? Apakah kuota kosong pada jalur Potensi Akademik dan Akademik Kejuaraan dapat dioptimalkan? Atau justru ribuan siswa harus mencari sekolah alternatif di luar pilihan mereka?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting karena menyangkut akses pendidikan dan pemerataan kesempatan bagi calon peserta didik.

Evaluasi Sistem Seleksi

Pengamat pendidikan Tengku Imam Kobul Yahya menilai fenomena ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan desain kuota antarjalur. Ketika satu jalur mengalami kelebihan pendaftar ekstrem sementara jalur lain kekurangan peminat, evaluasi distribusi kuota menjadi hal yang tak terelakkan.

"Jika tidak dilakukan penyesuaian, kondisi serupa berpotensi terjadi di berbagai sekolah lain di Jawa Barat,"ujarnya.

Program Sekolah Maung memang hadir untuk menjaring siswa terbaik sesuai kompetensi masing-masing. Namun di lapangan, tingginya minat masyarakat terhadap jalur rapor menjadi sinyal bahwa mekanisme seleksi dan distribusi kuota perlu ditinjau ulang agar lebih proporsional dan tidak menimbulkan kesan ribuan siswa tersingkir tanpa solusi yang jelas.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini